BMKG: Jawa sampai NTT Alami Hari Tanpa Hujan Hingga November

CNN Indonesia | Kamis, 03/10/2019 08:22 WIB
BMKG: Jawa sampai NTT Alami Hari Tanpa Hujan Hingga November Ilustrasi musim kemarau. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan wilayah di Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, hingga Nusa Tenggara Timur masih akan mengalami hari tanpa hujan setidaknya hingga November mendatang.

Kepala Bidang Analisis Variabilitas Iklim BMKG Indra Gustari usai berbicara di Forum Medan Merdeka Barat (FMB) 9 Kominfo di kantor Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kemarin mengatakan di wilayah di pulau-pulau tersebut telah mengalami 60 hari tanpa hujan. Bahkan, sambungnya, di NTT sudah ada yang mengalami 198 hari tanpa hujan.

Sedangkan dalam lima hari ke depan, prakiraan BMKG wilayah Sumatera Selatan, Jambi dan Lampung juga masih mengalami hari tanpa hujan atau intensitas hujan masih rendah. Hal sama masih terjadi di Kalimantan Selatan.


Meski intensitas curah hujan di wilayah tersebut masih rendah atau di bawah 10 milimeter (mm) per hari, untuk sejumlah daerah seperti Aceh dan Sumatera Utara intensitas curah hujan mulai meningkat.

Kondisi tersebut diikuti wilayah Kalimantan kecuali Kalimantan Selatan. Intensitas curah hujan sedang hingga lebat juga meningkat di wilayah Papua.

Ia mengatakan intensitas curah hujan di atas 50 mm per hari akan terjadi merata setelah pertengahan November. Kondisi tersebut akan membuat lahan gambut menjadi benar-benar basah dan tidak mudah terbakar.

"Prakiraan BMKG intensitas curah hujan mulai akan tinggi pada Desember, dapat mencapai 200-300 mm per hari. Sementara itu, puncak musim hujan akan terjadi pada Januari, meski untuk wilayah Aceh dan Sumatera Utara bulan-bulan tersebut sudah memasuki masa musim kering," ujar Indra Gustari kemarin seperti dilansir Antara.

Waspada Karhutla

Atas prakiraan hari tanpa hujan tersebut, Indra mengatakan BMKG pun meminta kewaspadaan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan.

Ia mengatakan setidaknya dibutuhkan intensitas hujan 50 mm ke atas per hari untuk dapat membasahi hutan dan lahan gambut sehingga tidak mudah terbakar.

Prediksi BMKG, kata Indra, hujan merata dengan intensitas 50 mm ke atas akan terjadi di provinsi-provinsi yang memiliki wilayah hutan dan lahan gambut rawan terbakar akan terjadi setelah pertengahan bulan Oktober.

"Prediksi hujan seminggu ke depan dengan intensitas sedang sampai lebat terjadi di barat Sumatra, mulai dari Aceh dan Sumatera Utara, serta bagian utara Indonesia yakni Kalimantan dan Papua," ujarnya.

Kasubdit Kemitraan dan Masyarakat Peduli Api Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Puwantio mengatakan jajaran Manggala Agni dari seluruh Daerah Operasi terus melakukan operasi pemadaman di daerah yang terjadi kebakaran, bersama Satuan Tugas yang terdiri dari TNI, Polri, BPBD, pemegang izin usaha, Masyarakat Peduli Api (MPA) dan pemerintah daerah.

"Patroli rutin juga dilakukan di wilayah kerja Manggala Agni yang tidak terjadi kebakaran. Jika kebakaran sudah semakin meluas, maka pemadaman akan dilakukan oleh BNPB, TNI dan Polri, dengan cara pengeboman air dengan menggunakan helikopter," kata Purwantio.

[Gambas:Video CNN]
Ia mengatakan kondisi titik api pada periode Januari-Oktober 2019 mencapai 7.354, hingga saat ini masih dipantau sebarannya. Tren karhutla pada September 2019 menurun dibanding periode sama di 2018, namun secara keseluruhan luas karhutla tahun ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Selanjutnya ia memaparkan untuk menanggulangi musim kemarau yang masih panjang, pihaknya sudah menyiapkan tim Manggala Agni di Sumatera (915 orang), Kalimantan (780). Selain itu ditambah Brigadalkarhut KSDA, Bridalkarhut KPH, Masyarakat Peduli Api (MPA) dan Satgas Gabungan TNI-Polri untuk mencegah dan menanggulangi karthula.

(Antara/kid)