Menurutnya, jika Jokowi tak juga menerbitkan Perppu KPK hingga 14 Oktober, maka mahasiswa akan kembali turun ke jalan dengan jumlah yang lebih besar dari aksi sebelumnya.
"Kami harap ada pertimbangan dari Pak Jokowi untuk mengeluarkan statement untuk mengeluarkan Perppu KPK," kata Dino usai bertemu Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (3/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Polisi: 175 Pedemo yang Ditangkap Preman |
Namun, Dino menyebut pemerintah belum bisa memastikan apakah pertemuan Jokowi dengan para mahasiswa bisa dilakukan secara terbuka.
Lebih lanjut, Dino menepis anggapan gerakan mahasiswa terbelah karena dirinya dan sejumlah mahasiswa lainnya bertemu dengan Moeldoko. Ia mengatakan bahwa gerakan mahasiswa masih solid dalam mengawal tujuh tuntutan tuntaskan reformasi.
"Ini beberapa kampus, secara substansi sama, tapi beda cara. Kami di sini berpikir mulai komunikasi dengan pemerintah. Ini bukan memecah gerakan kami. Kami tetap solid. Yang ingin kami sampaikan, ini hanya cara," ujar dia.
Mereka menuntut tujuh hal, yaitu pertama menolak RKUHP, RUU MINERBA, RUU Pertanahan, RUU Permasyarakatan, RUU Ketenagakerjaan, dan RUU KKS. Lalu mendesak pembatalan UU KPK dan UU SDA yang baru sahkan. Kemudian mendesak pengesahan RUU PKS dan RUU PPRT.
[Gambas:Video CNN]
Lalu kedua, mahasiswa menuntut pembatalan pimpinan KPK periode 2019-2023 pilihan DPR. Ketiga, menolak TNI & POLRI menempati jabatan sipil. Kemudian keempat, setop militerisme di Papua dan daerah lain, bebaskan tahanan politik Papua.
Poin kelima, mahasiswa dan masyarakat sipil meminta kriminalisasi aktivis dihentikan. Keenam hentikan pembakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera yang dilakukan oleh korporasi, dan pidanakan korporasi pembakar hutan, serta cabut izinnya. Ketujuh, tuntaskan pelanggaran HAM, dan adili penjahat HAM, termasuk yang duduk di lingkaran kekuasaan. (fra/wis)