Arkenas: Perburuan Harta Karun Sriwijaya Mestinya Dilarang

CNN Indonesia | Selasa, 08/10/2019 14:21 WIB
Arkenas: Perburuan Harta Karun Sriwijaya Mestinya Dilarang Salah satu harta karun yang diduga peninggalan Kerajaan Sriwijaya. (Dok.Kompaks)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) menilai perburuan harta karun Kerajaan Sriwijaya semestinya tak dilakukan. Namun, pihak pemerintah juga belum menangani persoalan itu sepenuhnya.

"Kalau secara undang-undang, memang setiap orang itu dilarang untuk mencari [benda sejarah]," ujar peneliti Arkenas Agustijanto Indrajaya kepada CNNIndonesia.com di kantornya, Selasa (8/10).

Hanya saja, ia memaklumi bahwa sebagian masyarakat Sumatera Selatan dalam kondisi tertentu dengan mudah menemukan peninggalan sejarah di kawasan lahan gambut tersebut.


Undang-Undang No. 11 Tahun 2011 tentang Cagar Budaya mengamanatkan agar warga yang menemukan harta karun itu melaporkannya kepada pemerintah. Nantinya, instansi dalam bidang kebudayaan akan melakukan pengkajian terhadap temuan itu.

"Instansi yang berwenang di bidang kebudayaan akan melakukan pengkajian terhadap temuan," tulis Pasal 23 UU tersebut.

[Gambas:Video CNN]
Menurut Agus, beberapa temuan harta karun itu sudah pernah diteliti oleh Arkenas pada 2008. Itu didapat dari sisa-sisa permukiman yang diperkirakan menjadi cikal bakal atau awal mula berdirinya Kerajaan Sriwijaya.

"Kami melihat jauh sebelum kerajaan Sriwijaya itu sudah ada pemukiman di pesisir timur wilayah itu. Dan hal itu berlangsung terus hingga periode Sriwijaya," jelasnya.

Kendati demikian, perlindungan aset-aset sejarah tersebut terhambat oleh pembagian kewenangan dan cakupan wilayah yang luas. Agus mengatakan kewenangan perlindungan itu ada pada Direktorat Purbakala atau Balai Pelestarian Cagar Budaya di tiap provinsi.

"Kalau pusat penelitian arkeologi itu melakukan penelitian arkeologi itu, tetapi kalau untuk melakukan perlindungan itu ada di Direktorat Purbakala dan di bawahnya ada balai pelestarian cagar budaya di provinsi-provinsi untuk melakukan pelestarian," tutur dia.

"Cuma sekali lagi, itu wilayahnya luas. Dan kalau pada musimnya itu orang banyak sekali," tambahnya.

Sebelumnya, sejumlah pihak menemukan harta karun Kerajaan Sriwijaya dalam berbagai bentuk di lahan bekas kebakaran hutan dan lahan di Sumsel. Perburuan harta karun kemudian makin ramai dilakukan.

Upaya ini diprediksi bermula pada 2005. Kala itu, seorang warga menemukan perhiasan cincin emas di sekitar lokasi. Warga itu mencangkul tanah di halaman rumahnya dan menemukan cincin emas.

(mjo/arh)