Ratusan Warga Berburu Harta Karun, Polisi Sebut Hoaks

CNN Indonesia | Selasa, 08/10/2019 19:40 WIB
Ratusan Warga Berburu Harta Karun, Polisi Sebut Hoaks CNNIndonesia.com mendapati ratusan warga berburu benda berharga yang diduga peninggalan Kerajaan Sriwijaya, namun polisi mengklaim itu sebagai hoaks. (CNN Indonesia/Hafidz Trijatnika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sedikitnya seratusan masyarakat berburu harta karun yang diduga sebagai peninggalan berharga Kerajaan Sriwijaya di Desa Pelimbangan, Kecamatan Cengal, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, Selasa (8/10). Namun polisi menyebut hal tersebut merupakan kabar bohong atau hoaks.

Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com di lokasi perburuan, masyarakat berkumpul di kanal PT Samora Usaha Jaya mencari harta karun. Di dalam air payau setinggi 1 meter masyarakat berbekal baskom untuk melimbang pasir yang berada di dasar kanal guna mencari benda peninggalan berharga.

Kebanyakan mereka mendapatkan manik-manik berukuran kecil yang lazim dirangkai menjadi untaian kalung atau gelang. Namun tak sedikit dari masyarakat yang berburu menemukan pecahan dan lempengan emas berukuran kecil, serta perhiasan yang belum bisa diidentifikasikan jenisnya.

Seperti yang dilakukan oleh Kandi (35), warga Muara Sungai Kelese, Desa Simpang Tiga Induk, Kecamatan Tulung Selapan, OKI. Kandi mengaku sudah 6 tahun melakukan perburuan harta karun tersebut. Berburu harta karun menjadi mata pencahariannya pada musim kemarau, sedangkan di musim hujan dirinya mencari ikan dengan menjadi nelayan.


"Kami ini berombongan, nyari sama-sama dengan warga lain. Memang sudah lama nyari-nyari kaya gini," ujar Kandi.

Sebelum ke Desa Pelimbangan, Kandi mengaku berburu di Desa Serdang. Dia dan rombongan berpindah lokasi setelah tak lagi menemukan harta buruan.

"Tidak tentu dapatnya. Tapi rata-rata bisa dapat Rp1-2 juta seminggu jual manik-manik sama emas yang saya nemu," ujar dia.
Ratusan Warga Berburu Harta Karun, Polisi Sebut HoaksRatusan Warga Berburu di Lokasi Harta Karun Sriwijaya (CNN Indonesia/Hafidz Trijatnika)


Harga termahal yang pernah dia terima untuk menjual manik-manik mencapat Rp5 juta satu untaian berbagai macam jenis dan motif.

"Manik-manik ini ada yang langka, disebutnya mata setan. Warnanya putih dan hitam itu sangat langka makanya banyak yang berani bayar mahal," ujar dia

Di lain pihak, Kapolsek Cengal Inspektur Satu Eko Suseno mengatakan perburuan harta karun di lokasi tersebut merupakan hoaks. Padahal bersama-sama CNNIndonesia.com, Eko sempat menyaksikan perburuan harta karun oleh ratusan warga di lokasi tersebut.

Eko mengimbau kepada warga untuk tidak terpancing kabar bohong tersebut dan datang ke lokasi untuk mencari harta karun. Karena tidak ada harta karun yang ditemukan oleh warga.

"Mereka hanya menemukan manik-manik yang tidak berharga. Anggota datang ke lokasi untuk mengimbau agar masyarakat tidak perlu datang lagi ke lokasi itu untuk berburu harta karun. Itu baru ramai 3 hari lalu, sekarang sudah sepi. yang ada masyarakat menyesal. Sebagian datang karena penasaran," ujar dia.
[Gambas:Video CNN]

Eko mengimbau agar masyarakat tidak melanjutkan perburuan untuk menghindari bentrokan yang tidak diinginkan. Dia mengkhawatirkan apabila ditemukannya harta karun menjadi konflik di tengah warga.

Kepolisian kini menempatkan dua petugas untuk berjaga di lokasi mencegah terjadinya bentrokan dan memasang spanduk imbauan.

"Aktivitas ini bisa disebut ilegal karena tidak ada izin. Masih akan kita koordinasikan lagi ke pimpinan apa langkah kita ke depannya," ujar dia.

Terpisah, Kabih Humas Polda Sumsel Komisaris Besar Supriadi berujar, pihaknya berkesimpulan bahwa perburuan harta karun merupakan hoaks berdasarkan hasil penyelidikan Polres OKI. Petugas tidak menemukan barang-barang yang disebut sebagai harta karun.

"Kami pastikan penemuan harta karun itu bohong atau hoaks, kita sudah lakukan investigasi di TKP," ungkap Supriadi.

Dia mengatakan anggota polisi setempat pun tidak menemukan lokasi dipenuhi para pemburu harta karun seperti yang diberitakan. Hanya beberapa orang saja yang sedang melakukan pencarian dengan alat seadanya.

"Hanya empat orang saja yang ada di lokasi, sudah delapan hari, itu pun mereka tidak menemukan apa-apa," ujar dia.


(idz/gil)