Juru bicara Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengatakan dalam Rakernas tersebut akan ditentukan apakah Gerindra akan menjadi oposisi atau bergabung ke dalam koalisi partai politik pendukung pemerintahan Jokowi-Ma'ruf.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rakernas Partai Gerindra kemungkinan diselenggarakan di Jakarta atau Hambalang, Bogor, Jawa Barat. Untuk tempatnya, Dahnil bilang belum diputuskan.
Meski begitu Muzani menyebut pihaknya tidak serta merta menerima tawaran yang diajukan. Mengingat pada Pilpres 2019 kemarin Partai Gerindra yang mengusung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno merupakan kompetitor dari penghuni istana saat ini, yakni Joko Widodo.
"Pembicaraan itu memang ada dan kita tidak bisa pungkiri bahwa ada pembicaraan, ada pemikiran di sekitar istana untuk (ajak Gerindra bergabung) itu," kata Muzani di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (7/10).
Partai koalisi pendukung Jokowi sampai saat ini belum bersuara bulat atas kemungkinan Gerindra masuk gerbong pemerintahan.
Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Puan Maharani mengatakan bahwa Presiden Jokowi belum mengajak partainya membicarakan wacana pemberian kursi menteri di kabinet mendatang untuk Partai Gerindra.
"Setuju, enggak setuju, kita lihat saja Presiden belum mengajak omong," kata Puan kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
[Gambas:Video CNN]
Sementara NasDem bersikap bahwa pemenang dari sebuah kontestasi harus jelas dan tidak boleh dikaburkan dalam pandangan masyarakat. Sekjen NasDem Johnny G Plate pun menegaskan bahwa pihak yang kalah dalam konstestasi pemilih harus berjiwa kesatria.
"Keadaban politik itu harus dijaga, demokrasi yang sehat harus dijaga. Masyarakat jangan dibuat kabur dan kontestasi demokrasi Pilpres maupun Pileg jangan dibuat kabur siapa yang menang, siapa yang kalah," kata dia. (mts/wis)