Tetangga Tak Curiga Selama 8 Bulan Penusuk Wiranto Mengontrak

CNN Indonesia | Kamis, 10/10/2019 19:58 WIB
Tetangga Tak Curiga Selama 8 Bulan Penusuk Wiranto Mengontrak Polisi menjaga rumah yang dikontrak pelaku penusukan Wiranto di Kampung Sawah, Menes, Pandeglang. (CNN Indonesia/Yandhi Deslatama)
Pandeglang, CNN Indonesia -- Dua pelaku penyerangan Menkopolhukam Wiranto, yang merupakan pasangan suami-istri, SA dan FD, adalah warga pendatang di Desa Menes, Kecamatan Menes, Pandeglang, Banten. Selama delapan bulan terakhir, SA dan FD mengontrak di RT04 RW01, Kampung Sawah, Menes.

"Ngontrak di sini bulan dua [Februari] kemarin. Keseharian dia jarang gaul, paling keluar cuma beli makanan sama buang sampah aja. Dikenal warga diem," kata Ketua RT setempat, Mulyadi, saat ditemui di kediamannya, Kamis (10/10).

Sebelumnya Kapolda Banten Inspektur Jenderal Tomsi Tohir menyatakan para pelaku baru mengontrak di Kampung Sawah, Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten, baru sekitar dua bulan. Pernyataan ini berbeda dengan yang diungkapkan Mulyadi, selaku Ketua RT.


Mulyadi menerangkan FD dalam kesehariannya pun dikenal kerap menggunakan cadar atau pelindung wajah. Otomatis, sambung dia, hanya bagian mata saja yang terlihat ketika keluar rumah.

Ia menerangkan SA dikenal memiliki seorang putri yang kini usianya kisaran 13 tahun. Anak itu bukanlah buah pernikahan dengan FD, melainkan dari istri terdahulu SA yang telah diceraikan.

"Anaknya sudah dibawa Polwan. Nangis tadi," kata Mulyadi.

Diakui Mulyadi, selama delapan bulan bertetangga, warga mengaku tidak pernah melihat hal-hal mencurigakan dari perilaku SA maupun FD. Namun, warga mengaku kerap melihat kiriman barang datang ke rumah kontrakan pelaku. Tak diketahui apa barang yang dikirimkan tersebut.

Selain karena tertutupnya dengan warga, mereka pun jarang melihat SA maupun FD ikut salat berjemaah di masjid terdekat. Padahal, sambungnya, jarak masjid dengan rumah kontrakan itu sekitar 100 meter.

"Enggak ikut pengajian. Salat Jumat juga enggak pernah," terangnya.

SA maupun FD hanya keluar rumah untuk berbelanja saja, tidak pernah bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. SA maupun FD mengaku kepada warga menjual pulsa dan bisnis online. Namun tidak pernah terlihat barang dagangannya.

"Sehari-hari (ngakunya) bisnis online aja. Enggak ada yang mencurigakan sih," jelasnya.

Mulyadi mengingat, pernah suatu waktu SA dan putrinya kepergok warga saat jalan kaki pada larut malam. Warga yang heran, kata Mulyadi, lalu bertanya tujuan ayah dan anak itu bepergian tanpa kendaraan saat larut malam. Mulyadi menerangkan kala itu SA menjawab akan mengikuti sebuah pengajian. Sang putri sendiri diketahui warga tak dimasukkan ke sekolah formal oleh orang tuanya.

Setelah penyerangan terhadap Wiranto, kata Mulyadi, polisi telah menggeledah rumah yang dikontrak SA dan FD tersebut.

"Tadi di geledah sekitar jam 12.00 wib. Anaknya enggak sekolah. Dulu katanya sih pernah mesantren," ujar Mulyadi.


Pengusaha Angkutan dan Air Mineral

SA diketahui berasal dari Medan, Sumatera Utara. Di tempat asalnya, berdasarkan laporan Produser CNNIndonesia TV di Medan, Agus Supratman, SA sempat menjadi koordinator dari usaha air mineral di sekitar rumah kakaknya di ibu kota provinsi Sumatera itu. Selain itu, dia juga memiliki dua angkutan kota yang beroperasi di wilayah Medan.

"Pernah menjadi bagian koordinator dari usaha air mineral yang ada disini. SA Diketahui para tetangganya memiliki dua angkutan kota yang beroperasi di kota Medan," kata Agus dalam laporannya untuk CNNIndonesia TV, Kamis.

Serupa di Pandeglang, di Medan pun ternyata tidak banyak warga yang mengetahui aktivitas SA selama tinggal dalam hunian kakaknya tersebut. Dikatakan juga, Alam jarang menyambangi rumah tetangga di sekitarnya.

[Gambas:Video CNN]
Hal itu membuat para tetangga kurang mengenal pribadi SA, terduga penusukan Wiranto. Kendati demikian, polisi tetap melakukan pemeriksaan kediaman kakak dari SA untuk mendapatkan informasi dan keterangan yang terkait.

Polisi juga mencoba mencari informasi mengenai aktivitas dari SA sebelum dirinya pindah dari rumah tersebut pada 2016 silam.

"Sampai saat ini disini memang petugas kepolisian tadi Kapolres, Kapolsek Medan Labuhan datang untuk berdialog langsung dengan Krisnawati yaitu iparnya dari Alam dan juga sudah datang untuk informasi yang diperlukan untuk mengurai ada tidak keterlibatan pihak lain di tempat ini," demikian laporan Agus. (yan/kid)