Keluarga Jokowi di Solo, Polda Lakukan 'Maximum Security'

CNN Indonesia | Jumat, 11/10/2019 15:05 WIB
Keluarga Jokowi di Solo, Polda Lakukan 'Maximum Security' Pagar betis personel brimob bersenjata lengkap berjaga di depan Mapolda Jawa Tengah, Semarang. (CNN Indonesia/ Damar Sinuko)
Semarang, CNN Indonesia -- Setelah Menkopolhukam Wiranto ditusuk di Pandeglang, Polda Jawa Tengah melakukan pengamanan 'maximum security' di beberapa tempat. Kapolda Jawa tengah Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel mengatakan itu pun termasuk di Solo yang merupakan kampung halaman Presiden RI Joko Widodo ( Jokowi).

Rycko mengatakan tempat tinggal dan keluarga Presiden merupakan prioritas dalam 'maximum security' yakni kelas VVIP yang selama ini telah berjalan sesuai Standar dan dilakukan oleh Polri-TNI.

Tempat berikutnya adalah Markas atau kantor Polisi yang kerap menjadi simpatisan kelompok radikal atau teroris untuk beraksi seiring pemahamanan kelompok radikal atau teroris yang menjadikan Polisi adalah musuh atau toghut yang harus dibinasakan.


"Pastilah pengamanan kita tingkatkan, di sini kan ada keluarga Presiden. Namun selama ini semua sudah berjalan sesuai SOP, mana yang kelas VIP dan mana yang VVIP. Kemudian 'maximum security' kita berlakukan di Markas Komando (Mako) Polisi di Jawa Tengah, kita enggak boleh lengah", ujar Rycko di Mapolda Jateng, Semarang, Jumat (11/10).

Rycko juga meminta agar personel di jajarannya untuk waspada dan mampu melindungi dirinya sendiri agar dapat melawan dari serangan terduga teroris.

"Untuk personel di jajaran sudah saya minta untuk waspada dan melindungi diri. Perluas sense of crisis, deteksi dini dan deteksi fungsi, lakukan evaluasi dan tidak lupa untuk saling kordinasi. Kita ini Polisi ditarget mereka lho," ujar Rycko.

Berdasarkan pantauan, di depan Mapolda Jawa Tengah, sejumlah personel anggota Brimob melakukan penjagaan ketat lengkap dengan senjatanya. Setiap tamu yang datang, diperiksa barang bawaannya dan diminta untuk meninggalkan kartu identitas.

Menurut Rycko, kasus penusukan Menkopolhukam Wiranto menunjukkan bila sel-sel 'tidur' kelompok teroris dan kelompok radikalisme itu memang ada dan masih ada. Dan, mau tak mau diakui dirinya, salah satu target yang dianggap musuh oleh kelompok tersebut adalah Aparat Kepolisian.

"Kemarin disebut kan, pelaku [penyerang] pak Wiranto terpapar radikalisme ala ISIS, itu tidak bisa dipungkiri bisa sel tidur memang ada dan masih ada. Makanya saya minta anggota jajaran Polda Jawa Tengah untuk waspada melindungi dirinya karena Polri dianggap musuh atau toghut oleh mereka," ujar Rycko.

Menurut Rycko aksi penyerangan kepada Polri tidak selalu tertuju pada personel secara langsung, namun juga bisa yang bentuknya simbol seperti Pos Polisi dan Kantor Polisi.

"Pengamanan Mako di jajaran Polres sampai Polsek di Jawa Tengah sesuai terkondisi secara 'maximum security', dan sampai detik ini masih berlangsung. Kita tidak mau lengah dan kecolongan," kata Rycko.

Rycko pun meminta para pemuka masyarakat agar lebih jeli memerhatikan lingkungan sekitar bila terdapat perubahan perilaku yang terjadi pada orang terdekatnya.

"Sehebat apapun deteksi yang dilakukan Polisi, tidak akan sebanding dengan peran serta masyarakat untuk lebih jeli memberikan informasi kepada Polisi. Makanya untuk yang orang tua, perhatikan anaknya. Yang kiai, perhatikan santrinya, yang guru perhatikan muridnya, sampai yang pejabat perhatikan anak buahnya," ujar Rycko.

[Gambas:Video CNN]

Sementara itu di Jakarta, usai membesuk Wiranto di RSPAD, Presiden Jokowi memerintahkan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian untuk memberikan penambahan pengamanan kepada pejabat.

Jokowi juga memerintah Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Kepala BIN Budi Gunawan untuk membongkar jaringan pelaku penusukan Wiranto. Mantan gubernur DKI Jakarta itu menyebut pelaku penusuk Wiranto adalah teroris.

(dmr)