Rycko mengatakan tempat tinggal dan keluarga Presiden merupakan prioritas dalam 'maximum security' yakni kelas VVIP yang selama ini telah berjalan sesuai Standar dan dilakukan oleh Polri-TNI.
Tempat berikutnya adalah Markas atau kantor Polisi yang kerap menjadi simpatisan kelompok radikal atau teroris untuk beraksi seiring pemahamanan kelompok radikal atau teroris yang menjadikan Polisi adalah musuh atau toghut yang harus dibinasakan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan pantauan, di depan Mapolda Jawa Tengah, sejumlah personel anggota Brimob melakukan penjagaan ketat lengkap dengan senjatanya. Setiap tamu yang datang, diperiksa barang bawaannya dan diminta untuk meninggalkan kartu identitas.
Menurut Rycko, kasus penusukan Menkopolhukam Wiranto menunjukkan bila sel-sel 'tidur' kelompok teroris dan kelompok radikalisme itu memang ada dan masih ada. Dan, mau tak mau diakui dirinya, salah satu target yang dianggap musuh oleh kelompok tersebut adalah Aparat Kepolisian.
"Kemarin disebut kan, pelaku [penyerang] pak Wiranto terpapar radikalisme ala ISIS, itu tidak bisa dipungkiri bisa sel tidur memang ada dan masih ada. Makanya saya minta anggota jajaran Polda Jawa Tengah untuk waspada melindungi dirinya karena Polri dianggap musuh atau toghut oleh mereka," ujar Rycko.
Menurut Rycko aksi penyerangan kepada Polri tidak selalu tertuju pada personel secara langsung, namun juga bisa yang bentuknya simbol seperti Pos Polisi dan Kantor Polisi.
"Pengamanan Mako di jajaran Polres sampai Polsek di Jawa Tengah sesuai terkondisi secara 'maximum security', dan sampai detik ini masih berlangsung. Kita tidak mau lengah dan kecolongan," kata Rycko.
"Sehebat apapun deteksi yang dilakukan Polisi, tidak akan sebanding dengan peran serta masyarakat untuk lebih jeli memberikan informasi kepada Polisi. Makanya untuk yang orang tua, perhatikan anaknya. Yang kiai, perhatikan santrinya, yang guru perhatikan muridnya, sampai yang pejabat perhatikan anak buahnya," ujar Rycko.
[Gambas:Video CNN]
Sementara itu di Jakarta, usai membesuk Wiranto di RSPAD, Presiden Jokowi memerintahkan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian untuk memberikan penambahan pengamanan kepada pejabat.
Jokowi juga memerintah Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Kepala BIN Budi Gunawan untuk membongkar jaringan pelaku penusukan Wiranto. Mantan gubernur DKI Jakarta itu menyebut pelaku penusuk Wiranto adalah teroris.