Kapolda Papua: Ribuan Mahasiswa yang Pulang Jadi Beban Sosial

CNN Indonesia | Senin, 14/10/2019 10:45 WIB
Kapolda Papua: Ribuan Mahasiswa yang Pulang Jadi Beban Sosial Kapolda Papua Irjen Paulus Waterpau menyebut mahasiswa yang pulang ke Papua dan tak mau melanjutkan studi menjadi beban sosial(Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kapolda Papua Inspektur Jenderal Paulus Waterpauw mengatakan ribuan mahasiswa yang pulang kampung dan tak mau melanjutkan studi menjadi beban sosial bagi pemerintah daerah. Dia menyebut saat ini sudah ada 2.600 mahasiswa yang memutuskan kembali ke Papua sejak Agustus lalu.

"Adik-adik pelajar dan mahasiswa yang sudah kembali ke Papua saat ini tercatat 2.600 orang. Untuk apa mereka pulang? Ini menjadi beban sosial," kata Paulus saat dihubungi dari Timika seperti dilansir dari Antara, Senin (14/10).

Paulus tidak merinci beban sosial yang dia maksud. Paulus hanya mengatakan bahwa pelajar dan mahasiswa merupakan kalangan yang paling rentan disusupi dan dipengaruhi oleh pihak yang memiliki agenda tertentu di Papua.


Paulus mengatakan mahasiswa juga telah diminta untuk kembali melanjutkan studi di kampus masing-masing. Namun, Dia juga menyayangkan ketika mahasiswa menolak undangan pertemuan dari Gubernur Papua Lukas Enembe serta tokoh Forum Pimpinan Daerah (Forkompinda) pada Jumat lalu (13/10).

Padahal, menurut Paulus, pertemuan dengan Gubernur Papua serta tokoh masyarakat dan agama bisa digunakan mahasiswa untuk mencari solusi atas peristiwa yang terjadi belakangan.
"Ada apa ini? Di sisi lain mereka terus mendengungkan berbagai permasalahan yang terjadi, sekecil apa pun melalui jalur-jalur komunikasi yang mereka punya. Ini nyata," kata Paulus.

Paulus lantas meminta seluruh anggotanya untuk terus memperhatikan perkembangan situasi di Papua. Harus peka dan selalu waspada terhadap informasi yang beredar.

"Ada informasi sekecil apa pun, desas-desus, isu-isu yang bertebaran di media sosial, kasih input kepada teman-teman untuk mengantisipasinya," ujarnya.

Paulus juga mengimbau kepada Polres seantero Papua yang mendapat tambahan pasukan Brimob BKO dari daerah lain untuk selalu bersinergi. Komunikasi dan koordinasi mesti dilakukan secara optimal.
Terutama dalam menggelar kegiatan patroli bersama, razia senjata tajam, minuman keras serta menempatkan pos-pos keamanan di wilayah rawan.

"Jangan berpikir konflik di Papua itu biasa. Situasi sekarang lebih spesifik," ucapnya.

Paulus juga mengingatkan jajarannya agar mengantisipasi pergerakan kelompok kriminal separatis bersenjata (KKSB). Dia menegaskan bahwa KKSB kerap melakukan kekerasan hingga teror penembakan.

"Rekan-rekan jangan lengah, tetap waspada. Bangun komunikasi dengan semua pihak sebab di semua daerah ada banyak tokoh yang mempunyai pengaruh," kata imbuh Paulus.

Saat ini, Paulus tengah berada di Wamena, bersama Pangdam XVII Cenderawasih Mayjen TNI Herman Asaribab. Mereka melakukan konsolidasi personel Polri dan TNI usai terjadi pembunuhan terhadap seorang pekerja di dekat Jembatan Woma, Wamena, Sabtu lalu (12/10).

Paulus Waterpauw mengingatkan para pekerja agar tidak keluar dari kawasan Kota Wamena untuk sementara waktu. Pekerja yang dilaporkan tewas dalam peristiwa penusukan itu adalah Deri Datuk Padang (30).

"Melalui Kapolres Jayawijaya saya sudah mengimbau agar saudara-saudara kita yang mau bekerja agar jangan dulu keluar dari Wamena. Kalau bisa mereka untuk sementara ini bekerja di sekitar Wamena itu saja," kata Paulus di Timika, Minggu (13/10).
[Gambas:Video CNN] (Antara/bmw)


BACA JUGA