Kakak Tak Percaya Adiknya Teroris yang Ditangkap Densus

CNN Indonesia | Jumat, 18/10/2019 04:31 WIB
Kakak Tak Percaya Adiknya Teroris yang Ditangkap Densus Salah satu lokasi penggerebekan teroris di Bekasi. Kurun waktu 10-16 Oktober 2016, Densus 88 menangkap 36 terduga teroris. (ANTARA FOTO/Risky Andrianto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kustati (38), kakak kandung Jaelani (36) dan Abdul Karim (31), mengaku tidak percaya dua adiknya terlibat jaringan teroris yang ditangkap Densus 88 Antiteror di wilayah Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

"Selama ini, Jaelani dan Abdul Karim merupakan sosok yang baik di mata keluarga dan di lingkungannya dan tidak melakukan gerakan yang mencurigakan," kata Kustati yang merupakan warga Desa Kluwut, Kabupaten Brebes, Rabu (16/10) seperti dilansir Antara.

Kendati demikian, kata dia, dua adiknya sempat meminta keluarga agar tidak memajang foto mereka yang ada di rumah sebelum pergi merantau.


Jaelani (36) dan Abdul Karim dilahirkan di Desa Kluwut, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, dan mereka hanya mengenyam pendidikan di bangku sekolah dasar (SD).

"Selama ini, yang saya ketahui kedua adiknya bekerja di Jakarta sebagai penjual es jeruk," katanya.

Orang tua terduga teroris, Sodikun (67) mengatakan, pihak keluarga juga baru mengetahui kalau Jaelani dan Abdul Karim pindah ke Sukoharjo belum lama ini.

Keluarganya, kata dia, mendengar kabar kedua anaknya ditangkap oleh Tim Densus 88 Antiteror dari adik ipar anaknya (Jaelani, red.), sekitar pukul 11.00 siang.

"Jaelani terakhir berkomunikasi dengan keluarga sekitar seminggu lalu dan hanya menanyakan perihal pekerjaan keduanya di Sukoharjo," katanya.

Jaelani dan Abdul Karim adalah dua dari 36 terduga teroris yang ditangkap Densus 88 Antiteror Polri dalam rentang waktu 10-16 Oktober 2019 atau sejak peristiwa penusukan terhadap Menkopolhukam Wiranto di Alun-alun Menes, Kabupaten Pandeglang.

"Ada 36 orang totalnya. Densus 88 terus berpencar dan mengejar semua tersangka," kata Irjen Iqbal di Jakarta, Rabu (16/10).

Puluhan orang yang diamankan itu juga termasuk dua polisi wanita (Polwan) yang terindikasi terpapar paham radikalisme.

"[Adanya polwan terpapar radikal] Polri introspeksi ke dalam," katanya.

Rincian penangkapan terduga teroris tersebut yakni:

1. Wilayah Pandeglang total tiga orang, Syahrial Alamsyah, Fitri Andriana dan Ratu Ayu.
2. Wilayah Bali terdapat dua orang, Ahmad Taufiqurrahman dan Zafiq Ali Ibrahim.
3. Wilayah Manado, Syamsudin alias Jack Sparrow
4. Wilayah Cengkareng, Taufik Hidayat dan Devi Rusdiwarni.
5. Wilayah Bandung total tujuh orang, yaitu Wahyu Budi Nugraha, Nurdin, Adi Ali Sapari, Juju jurharyanti, Muhammad Nur Alinudin, Dendi Permana, Rizal Fathurrahman.
6. Wilayah Jambi ada satu orang yakni Rohis.
7. Wilayah Cirebon, Yusuf Firdaus, Beni Asri, Bridalul Fajri, Lufi Trioni dan Susanto, total lima orang.
8. Wilayah Lampung: Noval, Aul Putra, Tri Haryono, Yunus, M Rifki, Ubaidira, total enam orang.
9. Wilayah Poso: Awaludin
10. Jawa Tengah: Trisyono, Ma'rifah Hasanah, Abdul Karim dan Jaelani Ahmad Sarwani dan Pangerudin Abdul Aziz yang baru hari ini dilakukan penangkapan.
11. Wilayah Jawa Timur: Rizky Kurniawan dan Anisa Primahapsa.

Dalam kesempatan yang sama, Iqbal menyatakan sebanyak 36 terduga teroris yang ditangkap sepekan ini banyak melakukan komunikasi dengan sesamanya secara online.

"Mereka melakukan interaksi lewat media sosial, yaitu salah satu plafrom Whatsapp dan sebagainya. Mereka bekomunikasi dan berinteraksi di sana," kata Iqbal di Jakarta, Rabu (16/10).

[Gambas:Video CNN]
Iqbal menyebutkan lewat komunikasi online itu pula para terduga teroris melakukan seremoni pengucapan sumpah janji kesetiaan atau baiat.

"Ada beberapa tersangka yang sudah kita tangkap dan belum sudah berbaiat di sana, baiat online, dan karena mereka melakukan interaksi, belajar, merakit bom melalui online, otomotatis broderless," ujar Iqbal.

Para terduga teroris itu, kata Iqbal, juga banyak belajar merakit bom melalui media sosial tersebut. Karena melalui media online, maka lokasi mereka pun disebut Iqbal berada di sejumlah lokasi dan tidak terpusat dalam satu titik.

(Antara/kid)