Kabut Asap Pekat Buat Langit Palembang Kemerahan

CNN Indonesia | Jumat, 25/10/2019 02:21 WIB
Kabut Asap Pekat Buat Langit Palembang Kemerahan Ilustrasi kabut asap di Palembang. (ANTARA FOTO/Mushaful Imam)
Palembang, CNN Indonesia -- Kabut asap yang pekat di Palembang menyebabkan warna langit berubah menjadi kemerahan, Kamis (24/10) petang. Kabut asap terjadi karena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih belum padam di Sumatera Selatan.

Data Dinas Lingkungan Hidup Sumsel menunjukkan kualitas udara di Palembang, Kamis (24/10) masih dalam kategori tidak sehat dengan indeks skala pencemaran udara (ISPU) 197 mikrogram per meter kubik.

Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com, langit Palembang selalu terlihat mendung sepanjang hari selama tiga bulan terakhir, karena partikel asap.


Menjelang petang pada pukul 15.00 waktu setempat, langit mulai berubah warna menjadi kekuningan karena partikel asap yang semakin tebal.

Semakin sore, warna kekuningan itu semakin pekat. Hingga sekitar pukul 18.00, warna langit kuning kemerahan menaungi Palembang. Kendaraan roda empat sudah mulai menyalakan lampu sejak pukul 17.00 karena jarak pandang yang semakin terbatas.


Salah satu pengendara mobil di Palembang, Reza (25) mengatakan kabut asap di Palembang memang menyebabkan jarak pandang berkurang terutama di pagi dan sore hari.

Ia menyebutkan seperti pada hari ini yang dirasa sama seperti dua hari sebelumnya, langit kuning kemerahan. Asap pekat pun membuat ia enggan beraktivitas di luar ruangan karena membuat mata perih, sesak napas, bahkan mual.

"Sebisa mungkin beraktivitas di dalam ruangan saja. Di ruangan ber-AC apalagi, lebih enak, udaranya segar. Kalau sudah ke luar ruangan, sudah enggak tahu harus cari udara segar di mana," kata dia.

Kabut Asap Pekat Buat Langit Palembang KemerahanKala petang di Palembang, langit berubah warna menjadi kemerahan karena partikel asap karhutla yang semakin tebal. (CNN Indonesia/Hafidz)

Sementara itu Ahmad Tohir (26) berujar selalu mengenakan masker dan kacamata setiap mengendarai sepeda motor. Bahkan ia mengenakan dua masker sekaligus demi menghalau partikel asap masuk ke hidung dan mulut.

"Kalau cuma 1 masker enggak mempan, masih kerasa masuk. Apalagi kalau kena mata, itu perih. Pernah waktu itu di jalan enggak pakai kacamata, abunya itu masuk ke mata perih banget. Berhenti tiba-tiba di tengah jalan hampir ditabrak sama mobil di belakang. Sudah kejadian itu mata saya iritasi, baru sembuh 3 hari," kata dia.

Kepala Seksi Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi SMB II Palembang BMKG Sumsel Bambang Benny Setiaji mengatakan kondisi langit seperti ini karena pembiasan cahaya matahari oleh polutan yang terdapat di atmosfer.

Warna semakin tebal, menandakan konsentrasi polutan di langit pun semakin banyak.


"Masyarakat yang berkendara diimbau untuk berhati-hati karena jarak pandang berangsur berkurang menjelang pagi dan sore hari karena pekatnya asap. Gunakan masker dan kacamata bagi pengendara motor agar mengurangi dampak asap," kata Bambang.

Bambang menjelaskan angin permukaan yang tercatat di Stasiun Meteorologi SMB II Palembang umumnya dari arah timur-tenggara dengan kecepatan 9-37 kilometer per jam.

Angin ini menyebabkan potensi asap akibat karhutla ke wilayah Palembang dan sekitarnya masuk ke dalam kota.

LAPAN pada Kamis (24/10) mencatat bahwa beberapa titik panas di tenggara Palembang, 80 persen diyakini berkontribusi menyumbang asap ke kota tersebut. Daerah tersebut adalah Banyuasin dan Ogan Komering Ilir (OKI).

Jarak pandang terandag pada Kamis (24/10) pagi mencapai 700 meter yang menyebabkan delapan penerbangan di Bandara SMB II Palembang terganggu.

"Asap masih tetap berpotensi terjadi di Sumsel dikarenakan wilayah-wilayah yang memiliki jumlah titik panas yang signifikan belum terpapar hujan yang cukup mengingat luas dan dalamnya lahan gambut yang terbakar," ujar Bambang.

Sementara itu, Kepala Bidang Penanganan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel Ansori berujar, terdapat 226 titik api di Sumsel. Sebanyak 183 diantaranya berada di OKI.

"Pemadaman masih terus dilakukan baik dari darat maupun water bombing," ujar Ansori. (idz/end)