Hal itu disampaikannya saat menjadi penceramah di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jum'at (1/11). Dalam ceramah ini diangkat tema 'Merajut Persatuan dan Kesatuan'.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut Fachrul mengatakan masih banyak orang yang berbuat zalim lainnya. Padahal, Tuhan selalu mengawasi pergerakan setiap manusia.
"Sebagian pejabat atau kita pada saat berbuat zalim tidak segera mendapat balasan dari Allah, [justru] senang, [berkata] 'mudah-mudahan Allah sudah lupa'. Namun Allah ingatkan, 'jangan sekali-sekali mengira Allah lalai terhadap orang zalim'," tambahnya.
Fachrul juga menyinggung soal masalah perbedaan di Indonesia. Baginya, itu membawa suatu keberkahan dan pelajaran tersendiri. Misalnya, hubungan silaturahmi yang semakin sering antar-warga.
"Nah di sini letaknya ibadah, ini lah letaknya toleransi, di sini letaknya kemudian tentang kasih sayang, hubungan silaturahmi antara satu dan yang lainnya," ucap dia.
Ayat itu mengatakan, 'Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.'
"Pertanyaannya adalah kenapa Tuhan menciptakan bangsa dan manusia yang berbeda-beda? Jawaban utama di ayat ini adalah supaya saling mengenal satu sama lain. Dengan saling mengenal itu kita dapat belajar dengan baik dari satu dengan yang lain," simpulnya.
(ryn/arh)