Yusuf mengatakan itu untuk menanggapi polemik tentang rekomendasi larangan penggunaan cadar dan celana cingkrang di instansi pemerintah. Dia bicara melalui akun Instagram @yusufmansurnew, Sabtu (2/11).
"Bagaimana menangani isu keamanan, radikalisme, jangan sampai kita yang jadi radikal gara-gara menyerang orang yang tidak sama dengan kita," tuturnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yusuf lantas memberi contoh ketika ada seorang perempuan yang tidak memakai kerudung di lingkungan pesantren.
"Sampai di Pesantren bersentuhan dengan suasana Pesantren, dengan Alquran, Masjid, santri, kemudian datang hidayah itu. Bukan berarti langsung dicegat di pintu, 'Enggak berjilbab enggak boleh masuk'," lanjutnya
[Gambas:Instagram]
Yusuf menilai rencana pelarangan cadar dan celana cingkrang tergolong berlebihan. Sebab, menurutnya, setiap orang berhak berpakaian dengan nyaman dan sesuai keyakinannya.
Yusuf juga menganggap tidak bijak jika ada yang mengaitkan pakaian cadar dan celana cingkrang dengan radikalisme. Menurutnya, tak elok apabila menggeneralisasi dengan dasar kecurigaan dan kekhawatiran
"Menjadi tidak bijak, tidak arif lagi. Kalau apa-apa dipandang pasti terjadi, nanti terjadi dibangun di atas ketakutan; kekhawatiran," ujarnya.
"Memang nantinya bisa saja ada langkah-langkah lebih jauh, tapi kita tidak melarang niqab, tapi melarang untuk masuk instansi-instansi pemerintah, demi alasan keamanan. Apalagi kejadian Pak Wiranto yang lalu," kata Fachrul di Jakarta, Rabu (30/10).
Sehari kemudian, Fachrul Razi mengklarifikasi ucapannya. Dia mengatakan bahwa larangan cadar dan celana cingkrang bagi PNS baru sebatas rekomendasi.