"Masyarakat merasakan kebebasan sipil yang menjadi pondasi demokrasi belum naik dan bahkan cenderung memburuk," ujar Djayadi di Hotel Erien, Jakarta, Minggu (3/11).
Djayadi merujuk survei SMRC pada bulan Mei-Juni 2019 menunjukkan adanya kecenderungan memburuknya sejumlah indikator kebebasan sipil. Dalam menyampaikan pendapat misalnya, dia berkata 43 persen responden mengaku takut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:LSI: Intoleransi di Era Jokowi Masih Tinggi |
Lebih lanjut, Djayadi menyebut hasil survei memperlihatkan ketidakbebasan beragama mengalami peningkatan, yakni 7 persen pada tahun 2014 menjadi 13 persen tahun 2019.
"Namun yang menyatakan tidak bebas dan disensor pemerintah juga besar 38 persen," ujar Djayadi.
"Kepercayaan masyarakat terhadap Presiden Joko Widodo tampak menguat di bandingkan pada masa awal pemerintahannya, meskipun stagnan dalam tiga tahun terakhir," ujarnya.
Adapun terkait demokrasi sebagai bentuk pemerintahan di Indonesia, Djayadi menyebut mayoritas responden setuju. Sebanyak 12,3 persen sangat setuju dan 72,5 persen setuju dengan demokrasi di Indonesia.
"Sebanyak 6,1 persen tidak punya sikap. Sebanyak 2,4 persen tidak setuju dan 0,1 persen sangat tidak setuju," ujar Djayadi.
Djayadi menambahkan 86,5 persen responden menilai Pancasila dan UUD 1945 adalah yang terbaik bagi bangsa Indonesia saat ini. Sebanyak 4% menyatakan Pancasila dan UUD 1945 bertentangan dengan syariat Islam dan setuju agar Indonesia menerapkan syariat Islam.
[Gambas:Video CNN]
"Tampak terjadi tren penguatan keyakinan bahwa Pancasila dan UUD 1945 adalah landasan berbangsa dan bernegara yang paling baik dari tahun 2016 hingga 2019," ujarnya.
Lebih dari itu, Djayadi menyebut 66,4 persen responden lebih suka menganggap diri mereka sebagai warga negara Indonesia. Sebanyak 19,1 persen responden mengaku lebih suka menganggap dirinya sebagai umat agama tertentu, dan 11,9 persen lebih suka sebagai warga etnis atau suku tertentu.
"Selama tiga tahun terakir, telah terjadi tren penguatan identitas kebangsaan yang dibarengi dengan pelemahan identitas keagamaan dan kesukuan," ujar Djayadi. (jps/ain)