Angsana, kata Suzi, memiliki karakteristik pertumbuhan yang sangat cepat namun memiliki kelemahan sehingga DKI memutuskan untuk memotong pohon tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain Angsana, ada sejumlah pohon Beringin yang ditebang. Mulanya pohon ini dimaksudkan untuk penghijauan, namun belakangan akar dari pohon beringin merusak infrastruktur bangunan di sekitarnya.
"Semakin tumbuh besar akarnya merusak dan menjebol pot beton dan tentunya juga membahayakan dan secara estetika kota juga kurang mendukung," jelas Suzi.
Untuk melakukan penghijauan kembali, Dinas Pertamanan dan Pemakaman pun kembali menanam pohon dengan karakteristik yang sesuai kebutuhan. Beberapa di antaranya adalah pohon yang tumbuh tidak terlalu besar atau maksimal 10 meter.
"Kemudian akarnya tidak merusak konstruksi pedestrian, dan memiliki keindahan dengan warna-warna bunganya yang menarik," ungkap Suzi.
"Tujuannya adalah agar polusi dari kendaraan bermotor dapat langsung diserap mulai dari level bawah oleh tanaman semak tersebut sampai level atas yaitu oleh pohon pelindung," tutup dia.
Sejumlah warganet sebelumnya mengkritisi penebangan pohon-pohon tua di sepanjang trotoar di Cikini. Menurut mereka, pohon-pohon itu masih bisa diselamatkan andai Pemprov DKI punya komitmen terhadap lingkungan dan perlengkapan yang lebih baik.
[Gambas:Twitter]
"Jaman Gubernur Sutiyoso, jalur Trans Jakarta di Jln Hayam Wuruk diubah demi menyelamatkan pohon besar. Sangat menyedihkan pohon-pohon besar di Stasiun Cikini ini ditebang habis," kicau akun @mochamadarip.
"Andai saja kita punya perlengkapan ini, pohon-pohon berusia puluhan bahkan ratusan tahun bisa terselamatkan tanpa harus dipotong," kata akun @kamto_adi.
"Itu enggak cukup 20 tahun sampai sebesar itu," timpal @galeshka. (ctr/arh)