Seperti diketahui, dana pilkada hanya bersumber dari NPHD yang merupakan hasil perjanjian hibah antara pemda dengan KPU, Bawaslu, dan institusi keamanan di wilayah masing-masing.
Komisioner KPU Pramono Ubaid Tanthowi mengatakan ada lima daerah yang hingga saat ini belum menyetujui anggaran NPHD padahal sudah melewati batas waktu yang ditentukan PKPU Nomor 15 Tahun 2019, yakni 1 Oktober 2019.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara di dua daerah lainnya, Simalungun dan Pangkajene Kepulauan, pembahasan NPHD terkendala hubungan tak harmonis antara KPU daerah dan pemda.
[Gambas:Video CNN]
Dengan terkendalanya pencairan anggaran di lima daerah, KPU masih kekurangan uang Rp198,2 miliar. Selain lima wilayah itu, KPU telah menyepakati NPHD di 265 wilayah lainnya dengan total nilai Rp9,8 triliun.
"Kami mengkhawatirkan di lima daerah ini kalau anggaran tidak segera dipastikan, teman-teman kabupaten/kota akan terkendala tahapan-tahapan pemilihan," ucapnya.
Menghambat
Pramono juga menyoroti soal itikad Bupati Simalungun Jopinus Ramli Saragih alias JR Saragih yang belum juga menggarap NPHD untuk anggaran Pilkada 2020. Akibatnya, NPHD senilai Rp68,3 miliar yang diajukan KPU Simalungun belum dibahas hingga saat ini.
Dia berharap Kemendagri turun tangan menengahi pembahasan NPHD yang belum rampung, khususnya di Kabupaten Simalungun.
"Kami sangat menunggu inisiatif Kemendagri untuk "memaksa" pemerintah daerah untuk duduk semeja dengan KPU Bawaslu agar pembahasan anggaran bisa segera tercapai," kata Pramono.
(dhf/osc)