Polisi Endus Dugaan Korupsi Kasus SDN Gentong Ambruk

frd, CNN Indonesia | Jumat, 08/11/2019 19:20 WIB
Polisi Endus Dugaan Korupsi Kasus SDN Gentong Ambruk Bangunan sekolah yang ambruk di Sekolah Dasar (SD) Negeri Gentong, Kecamatan Gadingrejo, Pasuruan, Jawa Timur, Selasa (5/11/2019). (ANTARA FOTO/Umarul Faruq)
Surabaya, CNN Indonesia -- Kepolisian Daerah Jawa Timur terus mendalami kasus SD ambruk di Pasuruan. Kali ini polisi melakukan gelar perkara di SDN Gentong 1 Pasuruan, hasilnya ditemukan dua dugaan tindak pidana dalam insiden ini.

Dua dugaan yang didalami polisi, pertama adalah kasus yang mengakibatkan korban jiwa. Dan kedua fokus dugaan tindak pidana korupsi dalam pembangunan gedung yang ambruk.

"Untuk kasus tindak pidana tertentu atau tindak pidana korupsi ditangani oleh Polda Jawa Timur. Subdit Tipikor Polda Jawa Timur," ujar Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera, Jumat (8/11).


Dugaan korupsi, kata Barung, mulai terendus saat hasil laboratorium forensik (labfor) keluar. Terbukti spesifikasi material yang dibangun tidak sesuai dengan yang direncanakan.

"Kita komplain dengan ada material yang tidak sesuai ketentuan dari pada konstruksi," ujarnya Barung.

Barung menjamin penyidik akan transparan dalam kasus ini. Ia menegaskan kasus yang mengakibatkan dua korban jiwa ini juga akan diusut tuntas.

"Kita sampaikan terus update-nya, karena menjadi perhatian semua publik, semua kalangan kita akan gelar ini setransparan mungkin dalam rangka secepatnya," katanya.

[Gambas:Video CNN]
Sebelumnya, bangunan dan atap sekolah SDN Gentong, Kota Pasuruan, ambruk saat jam pelajaran siswa, sekitar pukul 08.15 WIB, Selasa (15/11) pagi. Akibatnya dua orang dinyatakan meninggal dunia.

Dari data kepolisian, korban meninggal dunia disebabkan atap sekolah ambruk itu terdiri dari seorang siswa bernama Irza Almira (8), dan seorang guru bernama Sevina Arsy Putri Wijaya (19).

Sementara 11 siswa lainnya dilarikan ke rumah sakit terdekat karena menderita luka-luka. Tiga di antaranya sudah diperbolehkan pulang dan menyisakan delapan orang anak. (wis)