PWNU Jatim Anggap Salam Agama Lain Perlu Demi Persatuan

CNN Indonesia | Rabu, 13/11/2019 07:18 WIB
PWNU Jatim Anggap Salam Agama Lain Perlu Demi Persatuan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur menganggap pejabat muslim tetap perlu ucapkan salam agama lain demi persatuan(Dok. Istimewa
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur menganjurkan pejabat muslim mengucapkan salam sesuai ajaran Islam dan juga salam untuk menyapa penganut agama lain dalam membuka acara resmi. Menurut Khatib Syuriah Pengurus PWNU Jatim, KH Syafruddin Syarif, hal tersebut perlu dilakukan demi menjaga persatuan bangsa.

Anjuran PWNU Jatim itu tak sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur yang mengimbau agar pejabat muslim tidak mengucapkan salam agama lain.

"Bagi pejabat muslim dianjurkan mengucapkan salam dengan kalimat Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, atau diikuti dengan ucapan salam nasional, seperti selamat pagi, salam sejahtera bagi kita semua, dan semisalnya," kata Syafruddin, di kantor PWNU Jatim, Surabaya, Selasa (12/11).


"Namun demikian, dalam kondisi dan situasi tertentu, demi menjaga persatuan bangsa dan menghindari perpecahan, pejabat muslim juga diperbolehkan menambahkan salam lintas agama," lanjutnya.

Syafruddin mengatakan sejumlah kiai dan petinggi PWNU melakukan kajian panjang dalam forum Bahtsul Masail sebelum mengeluarkan anjuran tersebut. Ada banyak referensi yang digunakan.

"Pendapat ini mempunyai referensi yang cukup panjang dan banyak sekali antara lain (kitab) Bariqotul Mahmuidiyah dan Asybah wan Nadhoir, serta perspektif fikih lainnya," Syafruddin
Merujuk referensi fikih Islam yang digunakan PWNU Jatim, Syafruddin lalu menjelaskan bahwa Islam sebagai agama selalu menebarkan pesan-pesan kedamaian. Bahkan, sejak zaman Nabi Adam, Nabi Ibrahim hingga Nabi Muhammad SAW.

Dahulu, lanjutnya, Ibrahim pernah menyampaikan salam kepada ayahnya yang masih belum bertauhid. Nabi Muhammad SAW juga mengucapkan salam kepada penyembah berhala serta Yahudi yang berkumpul dengan masyarakat muslim.

"Demikian pula generasi sahabat tabiin setelahnya," ucap Syafruddin.

Kendati demikian, PWNU tidak bermaksud untuk memepertentangkan pandangan PWNU dengan MUI Jatim ihwal salam kepada penganut agama lain. Syafruddin mengatakan pihaknya sebatas mengkaji lantaran hal itu sudah menjadi perhatian publik.

"Kami tidak dalam rangka untuk mengcounter MUI ataupun sebagainya, karena ini jadi polemik masyarakat maka PWNU melakukan kajian secara fikih," kata dia.
[Gambas:Video CNN]
MUI Jawa Timur mengimbau pejabat yang beragama Islam tidak mengucapkan salam dari agama lain ketika membuka acara resmi. MUI Jatim menilai itu sebagai bid'ah, mengandung nilai syuhbat dan patut dihindari.

Imbauan tersebut termaktub dalam surat edaran bernomor 110/MUI/JTM/2019 yang ditandatangani oleh Ketua MUI Jatim KH. Abdusshomad Buchori dan Sekretaris Umum Ainul Yaqin.

"Mengucapkan salam pembuka dari semua agama yang dilakukan oleh umat Islam adalah perbuatan baru yang merupakan bidah, yang tidak pernah ada di masa lalu. Minimal mengandung nilai syubhat, yang patut dihindari," demikian penggalan bunyi surat tersebut, saat diterima CNNIndonesia.com, Minggu (10/11).

Sekjen MUI Anwar Abbas menyebut MUI Jatim telah mengeluarkan imbauan yang tepat. Menurutnya, pejabat muslim memang tidak perlu mengucapkan salam agama lain ketika membuka acara resmi.

"Oleh karena itu seorang muslim harus berhati-hati di dalam berdoa dan jangan sampai dia melanggar ketentuan yang ada karena ketika dia berdoa maka dia hanya akan berdoa dan akan meminta pertolongan dalam doanya tersebut hanya kepada Allah SWT saja, tidak boleh kepada lainnya," ujar Anwar melalui keterangan tertulis yang diterima CNNIndonesia.com, Minggu (10/11).
(frd/bmw)