Petani Kopi Tewas Diterkam Macan Tutul

CNN Indonesia | Minggu, 17/11/2019 17:23 WIB
Petani Kopi Tewas Diterkam Macan Tutul Ilustrasi. (Istockphoto/Nito100)
Palembang, CNN Indonesia -- Seorang petani kopi, Kuswanto (58) warga Desa Pulau Panas, Kecamatan Tanjung Sakti Pumi, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan ditemukan meninggal di kebun miliknya pada Minggu (17/11) sekitar pukul 10.00 WIB. Kuswanto diduga diserang oleh macan tutul dahan karena terdapat luka serangan hewan buas di sekujur tubuhnya.

Kepala Desa Pulau Panas Sumadi berujar, sebelum kejadian Kuswanto tengah memetik kopi di kebunnya bersama seorang warga lain bernama Yansah. Namun, tiba-tiba korban menjerit, dua warga lain termasuk Yansah langsung menoleh ke arah korban yang menjerit dan melihat Kuswanto sudah terkapar di tanah dengan seekor macan menerkamnya.

"Kemungkinan korban itu langsung diterkam karena warga yang lain melihat dia langsung menjerit," ujar Sumadi kepada CNNIndonesia.com.


Melihat kejadian tersebut, Yansah pun segera mencari batang kayu untuk menakuti dan mengusir macan tersebut. Macan tutul segera melarikan diri setelah Yansah dan satu warga lainnya mengusirnya menggunakan batang kayu.
Namun korban Kuswanto sudah mengalami luka parah dengan adanya luka cakaran serta gigitan di bagian lehernya. Warga segera membawa korban ke rumah sakit terdekat namun nyawanya tak tertolong.

Sumadi mengatakan, warga cukup terkejut dengan adanya kejadian tersebut karena nyaris tidak adanya serangan hewan liar kepada warga di kawasan Desa Pulau Panas, Kecamatan Tanjung Sakti Pumi secara umum.

Lokasi kebun milik Kuswanto pun terbilang cukup jauh dari hutan lindung habitatnya sehingga warga aneh macan tutul bisa turun hingga ke pemukiman.

"Terakhir ada yang diserang itu sekitar 50 tahun lalu, itu pun cerita penduduk sepuh di sini. Waktu itu ada warga diterkam harimau saat mandi di sungai," ujar dia.

Dirinya telah mengimbau kepada seluruh warga untuk tidak dulu beraktivitas di lokasi penyerangan tersebut dan waspada setiap beraktivitas di luar ruangan. Dirinya khawatir macan tutul tersebut masih berkeliaran di sekitar pemukiman.

"Mungkin sumber air di hutan lindung di sana itu habis, makanya macan itu ke kebun warga, sudah ke dekat pemukiman," kata dia.

[Gambas:Video CNN]

Sementara, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan Genman Suhefti Hasibuan mengatakan, kawasan tersebut memang dekat dengan habitat macan tutul atau macan dahan. Satwa dengan nama latin panthera pardus ini, ujar Genman, berstatus hewan dilindungi yang terancam punah.

Berdasarkan informasi yang diterima pihaknya, peristiwa tersebut terjadi di dalam kebun yang berada di luar kawasan hutan lindung. Artinya, macan tutul tersebut keluar dari habibat aslinya. Genman berujar, secara umum tekanan dan gangguan dapat menyebabkan satwa liar keluar dari habitatnya. 

"Ada gangguan di rumahnya. Gangguannya bisa berbagai macam, bisa karena karhutla, illegal logging, perburuan, perambahan, atau membuka lahan baru," ujar Genman.

Namun pihaknya belum bisa memastikan apa yang menyebabkan satwa liar tersebut keluar dari habitatnya. Pihaknya telah menerjukan petugas ke lapangan untuk membuat kajian terkait seluruh detail dan kepastian kejadiannya di mana.

"Kita harus tahu dulu persis lokasi di mana. Petugas ke TKP dulu untuk pengecekan, menelaah kajian terkait kasus yang ada. Yang kedua, tentunya kami akan mencoba sosialisasi dengan pemerintah setempat," kata dia.

Petugas di lapangan pun, nantinya akan memutuskan apakah perlu dipasang jebakan kamera atau tidak setelah mengkaji lokasi kejadian penyerangan tersebut. Petugas pun harus melakukan peninjauan yang lebih dalam menentukan titik yang tepat untuk memasang jebakan kamera.

Dirinya berujar, meski jumlahnya lebih banyak macan tutul merupakan satwa yang sama-sama dilindungi karena terancam punah seperti Harimau Sumatera. Namun pihaknya tidak mengetahui secara pasti jumlah populasi macan tutul di Sumatera.

Genman mengungkapkan, macan tutul relatif tidak memiliki kebiasaan menyerang manusia dibandingkan harimau. Oleh karena itu, pihaknya akan mengkaji lebih lanjut mengenai fenomena tersebut.

"Intinya ada gangguan di habitatnya. Yang jelas kemungkinan gangguan tadi itu, kita sampaikan agar masyarakat tidak melakukan hal-hal yang mengganggu habitat satwa. Makanya tugas bersama, kalau itu habitat satwa, alokasikan, jangan diganggu," kata dia.
(idz/ugo)