Mahasiswa PMII Pamekasan Polisikan Dosen Filsafat IAIN Madura

Nurus Solehen, CNN Indonesia | Selasa, 19/11/2019 11:54 WIB
Mahasiswa PMII Pamekasan Polisikan Dosen Filsafat IAIN Madura Mahasiswa PMII Pamekasan melaporkan dosen filsafat IAIN Madura ke polisi. (Foto: CNN Indonesia/ nrs)
Madura, CNN Indonesia -- Sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Kabupaten Pamekasan mendatangi Kepolisian Resort Pamekasan untuk melaporkan dosen filsafat IAIN Madura Eko Ariwidodo karena diduga telah menertibkan spanduk hingga mengakibatkan logo organisasi tersobek dan membuangnya ke tempat sampah.

Laporan tertuang dalam Surat Tanda Terima Lapor Polisi Nomor: STTLP/290/XI/2019/JATIM/RES PMK yang isinya berdasarkan laporan polisi nomor: LP/290/XI/2019/JATIM/RES PMK, tertanggal 18 November 2019. Eko dilaporkan atas dugaan tindak pidana perusakan.


Pekan lalu, organisasi ini tengah melakukan perekrutan kader di sekitar kampus IAIN Madura. Namun spanduk tersebut ditertibkan oleh dosen Eko.


Ketua PMII Pamekasan Lian Fawahan mengatakan jalur hukum ditempuh sebagai alternatif penyelesaian masalah. Sebab sebelumnya, aksi demo dengan melibatkan ratusan mahasiswa tidak juga menemukan titik temu.

Saat aksi, Lian meminta Rektor IAIN Madura Muhammad Kosim memecat Eko. Alasannya, dosen asal Kota Kediri tersebut tidak hanya bertindak sewenang-wenang, namun juga diduga melecehkan dengan membuang spanduk ke tempat sampah.

"Spanduk PMII disobek lalu dibuang ke tempat sampah. Padahal saat menertibkan spanduk, dosen Eko mengetahui ada sejumlah mahasiswa yang bersiaga, kenapa dia tidak minta izin secara baik-baik," kata Lian Fawahan dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (19/11).

Ia berharap pelaporan Eko ke polisi tidak menambah arogansi seorang dosen di perguruan tinggi hanya persoalan bendera organisasi. Sehingga hubungan antara mahasiswa dan dosen tetap terjalin dengan baik.
Mahasiswa PMII Pamekasan Polisikan Dosen Filsafat IAIN MaduraMassa PB PMII saat berdemo di depan Gedung KPK beberapa waktu lalu. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)


Humas Polres Pamekasan Iptu Nining Dyah Puspitasari membenarkan sekelompok aktivis PMII Pamekasan melaporkan terhadap dosen filsafat bernama Eko Ariwidodo.

"Kejadiannya pada Jumat. Kronologisnya, terlapor saudara Eko melintas di halaman kampus namun tanpa basa basi, ia diduga langsung merusak spanduk PMII kemudian membuangnya ke sampah. Sekarang masih proses lidik," ujarnya.

Eko Ariwidodo saat dikonfirmasi terpisah mengaku tak niat melecehkan lambang PMII. Lambang yang diketahui terkena sobekan menurutnya sudah secara otomatis kena irisin saat diturunkan. Itu sebabnya atribut ditertibkan karena PMII bukan bagian dari intra kampus.

"Saya menurunkan spanduk rekrutmen, hanya karena mereka bukan bagian dari intra kampus," katanya.

Intra kampus yang dimaksud yakni organisasi di bawah naungan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Seperti LPM, Musik, Mahapala, dan Ukor. Sementara organisasi ekstra seperti PMII, HMI, dan GMNI, tidak ada dalam UKM IAIN Madura.

"Tafsirannya kalau tidak ada, iya tidak boleh pasang atribut apapun di lingkungan IAIN Madura," ujar Alumnus UGM Yogyakarta itu.
[Gambas:Video CNN]

Eko kerap menertibkan berbagai macam spanduk dan banner di lingkungan Fakultas Syariah. Hal demikian dilakukan agar kampus terlihat asri dan bersih.

Tepat pada Jumat (15/11), Eko melihat ada spanduk rekrutmen PMII terpampang di ruang publik saat ia jalan kaki dari Multicenter ke Gedung Fakultas Syariah.

"Saya menurunkan tidak merusak. Spanduk itu tidak sembunyi-sembunyi, dengan harapan agar mereka bisa berpikir," tuturnya.

Artinya, sambung Eko, atribut apapun dari organisasi ekstra kampus, tidak boleh beraktivitas di dalam kampus.

"Tetapi sayangnya, bagi mereka (PMII Fakultas Syariah, red) menafsirkan bahwa kalau tidak ada larangan dari Rektorat berarti tidak apa-apa. Nah bagi saya ini sudah salah tafsir," kata dia.
(gil)