Ayu Kartika Dewi, Pegiat Toleransi yang jadi Stafsus Jokowi

CNN Indonesia | Kamis, 21/11/2019 18:06 WIB
Ayu Kartika Dewi, Pegiat Toleransi yang jadi Stafsus Jokowi Tujuh staf khusus Jokowi. (Foto: CNN Indonesia/ Feri Agus Setyawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengalaman menjadi guru SD di Maluku Utara saat kerusuhan Ambon-Poso pada 1999 membawa Ayu Kartika Dewi membentuk sebuah organisasi, SabangMerauke.

Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga dan Pascasarjana Duke University Amerika Serikat ini bersama kawan-kawannya mendirikan program itu pada 2012.

Ia bertekad mampu menginspirasi publik untuk memperjuangkan keberagaman dan toleransi di Indonesia.


Hidup berpindah-pindah mengikuti sang ayah membuat perempuan usia 36 ini terbiasa dengan lingkungan beragam. Tapi saat jadi guru, dalam program Indonesia Mengajar, di Desa Papaloang, Halmahera itulah ia terusik dengan kondisi sisa konflik dan intoleransi.

Itu pula yang kemudian jadi sebab Ayu lantas fokus pada isu keberagaman sekembalinya ke Jakarta.

"Saya mendukung SabangMerauke karena saya percaya bahwa toleransi itu tidak bisa hanya dibaca di buku PPKN. Toleransi itu harus dialami, harus dirasakan," kata Ayu selaku tim perumus dikutip dari laman SabangMerauke.id.

Hal itu yang mungkin membuat Jokowi memilih Ayu untuk menjadi bagian staf khusus. "Salah satu anak muda bervisi mulia, menjadi pendiri dan mentor SabangMerauke," kata Presiden saat mengumumkan staf khusus.

Selain pendiri SabangMerauke, Ayu juga pernah menjadi staf Gubernur DKI Jakarta dan staf di Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4). Kini, Ayu ditunjuk jadi salah satu staf khusus Presiden Joko Widodo bersama enam anak muda lain.


Pada 2017, kegelisahan serupa membawanya membikin program Milenial Islami. Dua tahun silam ia gusar dengan peningkatan konservatisme dan radikalisme agama di kalangan anak muda.

Saat itu narasi-narasi tersebut gencar didengungkan, karena itu Ayu mendorong cerita lain soal perdamaian di kalangan muslim. Utamanya, bagi generasi milenial usia 18 hingga 25 tahun agar mengenal pandangan Islam yang moderat.

Ayu menyadari kurangnya toleransi di tengah masyarakat salah satunya lantaran ketimbangan pendidikan. Selain itu kata dia, institusi pendidikan pun belum maksimal mengajarkan keberagaman dan toleransi.

[Gambas:Video CNN] (ika/asa)