Wiranto soal 3 Persen TNI Radikal: Data Dari Mana, Suhardi?

CNN Indonesia | Kamis, 21/11/2019 12:29 WIB
Wiranto soal 3 Persen TNI Radikal: Data Dari Mana, Suhardi? Kepala BNPT Suhardi Alius mengatakan data yang menyebut 3 persen anggota TNI terpapar radikalisme tidak akurat. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komisaris Jenderal Suhardi Alius mengatakan bahwa data yang menyebutkan sekitar tiga persen anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) sudah terpapar paham radikalisme tidak akurat.

Data tentang dugaan prajurit terpapar radikalisme itu sebelumnya pernah disampaikan Ryamizard Ryacudu saat masih menjabat menteri pertahanan.

Suhardi menyatakan BNPT tak memiliki data terkait pernyataan Ryamizard tersebut. Ia pun mempersilakan Komisi III DPR RI untuk mengecek kebenaran data tersebut ke Markas Besar (Mabes) TNI .


"Tidak akurat. Tidak (ada data), mungkin bapak bisa tanya sama Mabes TNI," kata Suhardi dalam Rapat Kerja antara BNPT dengan Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat pada Kamis (21/11).

Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) kala itu, Wiranto, langsung menghubungi Suhardi saat Ryamizard menyampaikan pernyataan terkait jumlah anggota TNI yang terpapar radikalisme pada Juni 2019 lalu.

Suhardi lantas menjawab tidak memiliki data terkait hal tersebut dan meminta Wiranto bertanya langsung ke Ryamizard.

"Begitu ada statement itu kami ditelepon Wiranto langsung, 'Suhardi dari mana data itu?' Kami juga tidak tahu pak, silakan bapak tanya Menhan karena kami juga tidak punya data itu," kata jenderal polisi bintang tiga itu.

Suhardi menambahkan bahwa pemerintah akan melakukan penelitian terhadap kabar yang disampaikan Ryamizard tersebut.

"Saya dengar juga akan ada penelitian masalah tersebut," tuturnya.
[Gambas:Video CNN]
Ryamizard saat menjabat menteri pertahana menyebut Pancasila sedang mengalami pergolakan serius. Kata dia, banyak pihak-- termasuk TNI-- ingin mengganti Pancasila dengan ideologi khilafah negara Islam.

Berdasarkan data yang dimilikinya, Ryamizard menuturkan ada sekitar tiga persen anggota TNI yang sudah terpapar paham radikalisme.

"Dan kurang lebih tiga persen, kurang lebih tiga persen, ada TNI yang terpengaruh radikalisme," ujar Ryamizard saat acara halal bihalal Mabes TNI yang dilangsungkan di GOR Ahmad Yani, Cilangkap, Rabu (19/6).

Dia pun meminta anggota TNI yang terpapar paham radikalisme kembali mengingat dan berpegang pada sumpah prajurit.

"Kita mengimbau supaya mereka menepati sumpah prajurit, menyatakan setia kepada NKRI yang berdasarkan Pancasila. Sumpah, tidak boleh main-main dengan sumpah," ucap dia.
(mts/gil)