Fadli Zon Sebut Penambahan Wamen Boros dan Bagi Kekuasaan

CNN Indonesia | Rabu, 27/11/2019 05:55 WIB
Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon menilai rencana penambahan enam wakil menteri bertentangan dengan keinginan Presiden Jokowi merampingkan birokrasi. Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon mengkritik rencana Presiden Joko Widodo menambah jatah kursi wakil menteri dalam Kabinet Indonesia Maju. Menurut Fadli penambahan wamen adalah pemborosan dan bagi-bagi kekuasaan kepada tim sukses Pilpres 2019.

"Ini kan menjadi satu upaya untuk membagi-bagi kekuasaan kepada timses dan mencari-cari posisi untuk orang-orang yang belum dapat posisi, jadi bukan mau bekerja untuk rakyat, untuk negara," kata Fadli di Kompleks MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (26/11).

Rencana penambahan wakil menteri diungkapkan oleh Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko. Sebelumnya, Presiden Jokowi telah lebih dulu melantik 12 wakil menteri.


Moeldoko mengatakan presiden akan menambah enam wakil menteri di Kabinet Indonesia Maju. Belakangan Moeldoko mengklarifikasi bahwa penambahan enam wamen itu bisa berubah. 

Fadli sendiri menilai rencana penambahan wakil menteri kontradiktif dengan pernyataan Jokowi yang ingin memangkas birokrasi.

Menurutnya, dengan menambah wakil menteri, Jokowi justru malah menambah beban birokrasi dan boros anggaran.

"Kalau wakil menteri kecuali yang penting-penting, ya, oke lah. Tapi yang kalau semuanya mau dijadikan wakil menteri menurut saya bukan efisiensi, namanya pemborosan," kata dia.

Fadli memprediksi pengambilan keputusan di kementerian tak akan efektif bila ada penambahan wakil menteri.

[Gambas:Video CNN]
Menurutnya, semakin banyak orang di pucuk pimpinan suatu institusi akan membuat laju birokrasi menjadi lamban. "Pemborosan itu pasti tidak efektif," tambah dia.

Selain itu Fadli mengkritik keputusan Jokowi melantik tujuh staf khusus dari kalangan milenial. Ia menyarankan agar Jokowi menunjuk orang yang cakap secara kemampuan ketimbang hanya berdasarkan pertimbangan usia yang masih sangat muda.

"Kalau mau memberikan ruang ya jangan di staf dong, tapi di decision maker," kata Fadli. (rzr/wis)