"Tadi sudah kami tanyakan mengenai rencana pembangunan hotel dan sebagainya. Ini mungkin ditunda dulu sampai ada rencana yang lebih komprehensif. Saya minta Jakpro merevisi desain-desainnya," ujar Abdul di Kantor DPRD DKI Jakarta, Jumat (29/11).
Model bisnis dari proyek revitalisasi juga akan disesuaikan dengan revisi desain yang nanti dirampungkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita diskusi dengan seniman-seniman dan stakeholder. Apa sih yang terbaik untuk para seniman ini? Kalau itu [pembangunan hotel] yang terbaik, ya silakan bangun. Kalau tidak, ya jangan dibangun," kata Abdul.
"Saat kami lakukan kunjungan, saya bilang kalau revitalisasi tidak bisa dihentikan. Kalau disetop, bagaimana pertanggungjawabannya," ujar Pandapotan.
Sebelumnya, DPRD DKI Jakarta meminta Jakpro untuk meniadakan pembangunan hotel di TIM. Hal itu mau tak mau membuat anggaran keseluruhan untuk Jakpro dalam Kuappas dipangkas hingga Ro400 miliar.
"Enggak ada hotel, kita enggak kasih, kita potong dia Rp400 miliar," kata Prasetio, sebelumnya pada Kamis (28/11).
Rencana pembangunan hotel di kawasan TIM sebelumnya ditentang oleh kelompok seniman. Mereka tak ingin kawasan seni dan budaya itu menjadi komersial lewat kehadiran hotel.
[Gambas:Video CNN] (fey/asr)