Polisi Periksa 22 Saksi Terkait Pembunuhan Hakim Jamaluddin

CNN Indonesia | Rabu, 04/12/2019 19:13 WIB
Polisi Periksa 22 Saksi Terkait Pembunuhan Hakim Jamaluddin Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Agus Andrianto. (CNN Indonesia/Farida)
Medan, CNN Indonesia -- Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Agus Andrianto membenarkan hakim Pengadilan Negeri Medan, Jamaluddin tewas dibunuh. Saat ini penyidik gabungan dari Polda Sumut dan Polrestabes Medan masih mendalami pembunuhan Jamaluddin.

"Iya, benar. Anggota masih bekerja mohon doa. Tim dari Polrestabes dan Polda Sumut sedang bekerja. Harapannya kasus itu segera terungkap," kata Kapolda di Mapolda Sumut, Rabu (4/12).

Dia berharap kasus itu segera terungkap. Namun penyidik masih terus bekerja. Agus berkata untuk menetapkan seseorang sebagai tersangka tidak boleh gegabah.


"Kita menduga orang sebagai pelaku tidak boleh gegabah, dalami semua alibi kita periksa semua alat bukti yang ada, mudah-mudahan segera bisa ditangkap pelakunya," ucapnya.

Hingga saat ini, lanjutnya, sudah 22 orang saksi yang diperiksa dalam kasus pembunuhan hakim Hamaluddin. Mereka di antaranya Ketua PN Medan, rekan kerja korban di PN Medan, keluarga hingga warga.

"Kemarin 18, sekarang sudah 22 saksi yang diperiksa," paparnya.

Hakim Pengadilan Negeri Medan, Jamaluddin (55) ditemukan tewas di dalam mobil Toyota Prado Warna Hitam BK 77 HD. Mobil itu ditemukan berada di jurang tepatnya di Dusun II Namo Bintang Desa Suka Dame Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang, Sumut, Jumat (29/11).

[Gambas:Video CNN]
Saat ditemukan, mobil itu berada di jurang. Kondisi mobil kandas di pohon sawit. Selain itu jenazah korban berada belakang bangku supir tepatnya di bawah tempat duduk. Korban saat ditemukan mengenakan pakaian olahraga hijau yang bertulisan PN Medan. 

Ketua PN Medan, Sutio Jumagi Akhirno, mengaku tengah menelusuri kasus-kasus yang pernah disidangkan mendiang Hakim Jamaluddin di Pengadilan Negeri Medan. Namun, ia mengaku heran jika kematiannya dikaitkan dengan kasus yang ditangani.

"Saya sudah menelusuri lewat anggota majelis yang lain apakah ada terdeteksi perkara-perkara tertentu yang menarik perhatian, perkara berat, atau potensi ke arah itu," kata Sutio Jumagi Akhirno, Senin (2/12). (fnr/wis)