Hakim Jamaluddin Diduga Tewas 12-20 Jam Sebelum Ditemukan

CNN Indonesia | Rabu, 04/12/2019 21:15 WIB
Hakim Jamaluddin Diduga Tewas 12-20 Jam Sebelum Ditemukan Kapolda Sumut Irjen Agus Andrianto menyebut Hakim Jamaluddin tewas bukan karena diracun atau mabuk. (CNN Indonesia/FNR)
Medan, CNN Indonesia -- Hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan, Jamaluddin, disebut sudah meninggal sekitar 12 jam hingga 20 jam sebelum jasadnya ditemukan warga. Korban pun dikatakan tak diracun ataupun dalam kondisi mabuk.

Diketahui, korban ditemukan warga sudah tak bernyawa di dalam mobilnya di kawasan kebun sawit di Deli Serdang, Sumatera Utara, pada Jumat (29/11) pukul 13.30 WIB.

"Menurut hasil pemeriksaan labfor, jadi mayat sudah lemas kembali dan mulai lembab mengarah pada pembusukan. Artinya korban meninggal antara 12 sampai 20 jam (sebelum ditemukan). Ya kita nanti akan runtut dari sana, pelan-pelan," kata Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Andrianto, di Medan, Rabu (4/12).


Kapolda menambahkan tim forensik juga telah memeriksa cairan lambung korban. Namun yang ditemukan hanya cairan kandungan kafein dan obat batuk.

"Cairan lambung yang dicari apa ada racun atau tidak, bahan-bahan lain yang membahayakan atau tidak. Tapi yang ada hanya kafein dan obat batuk. Jadi korban dalam kondisi normal, tidak dalam kondisi mabuk dan tidak diracun," jelasnya.

[Gambas:Video CNN]
Sementara itu, anggota Komisi III DPR RI Eva Yuliana meminta agar Polda Sumut mengungkap tuntas kasus kematian hakim Jamaluddin.

"Kita meminta kepada Polda Sumut untuk segera mengungkap dan menyelesaikan kasus ini dengan baik," ungkapnya saat Kunjungan Kerja Spesifik Komisi III DPR RI dengan jajaran Polda Sumut di Mapolda Sumut.

Ia berharap agar polisi memberikan bantuan keamanan kepada hakim dan jaksa yang sedang menyidangkan kasus-kasus besar. Sehingga keamanan penegak hukum tersebut terjamin.

"Kita juga meminta kepada Polda Sumut dan semua Polres di Sumut untuk memperhatikan keamanan bagi hakim dan jaksa kita, untuk menangani kasus pelik," jelas anggota dewan dari Fraksi Partai NasDem itu.


(fnr/arh)