Waspada Aksi Terorisme Hingga Januari 2020

CNN Indonesia | Kamis, 05/12/2019 03:13 WIB
Waspada Aksi Terorisme Hingga Januari 2020 Ilustrasi (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengamat mengimbau pemerintah maupun warga negara Indonesia diminta lebih waspada terhadap serangan teror yang mungkin bisa terjadi dalam rentang waktu akhir tahun 2019 hingga Januari 2020 mendatang. 

Pengamat militer dari Universitas Padjadjaran, Muradi menghimbau agar seluruh warga negara, baik sipil maupun pemerintah waspada di rentang waktu 15 Desember 2019 hingga 15 Januri 2020.

"15 Desember sampai 15 Januari. Saya gini kalau melihat pola mereka itu kan momentum ya. Berkurang aktivitasnya mendekati Natal, abis itu bisa naik lagi. Saya kira pola belum berubah," kata Muradi ditemui di Hotel Ashley, Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, usai menghadiri diskusi terkait 'Mencegah Teror Akhir Tahun', Rabu (4/12). 

Meski begitu kata dia, teror ini bisa saja tak hanya terjadi di Jakarta. Ada daerah-daerah lain yang bisa menjadi sasaran. 


Tak hanya itu, Muradi juga menyebut saat ini jaringan terorisme yang diprediksi akan melakukan aski-aksinya itu juga telah mengubah pola sasaran. Sasaran teror tak lagi terfokus pada banyaknya jumlah korban melainkan siapa yang menajadi sasaran mereka. 

"Polanya memang belum berubah, hanya sasarannya yang berubah," kata dia. 

"Kalau dulu pengen besar kaya misal bom Bali. Ini engga. Mereka (teroris) mencoba menusuk satu atau dua orang, tapi yang terkenal, yang media darling. Efeknya yang dikejar, media coverge," jelasnya. 

[Gambas:Video CNN]


Muradi bahkan memprediksi bisa saja yang menjadi target serangan dalam aksi teror akhir tahun menjelang tahun baru adalah seorang pejabat publik.

"Bisa jadi bukan tempat ibadah lagi tapi target personal. Orang yang dianggap punya media coverage, teror entah ditusuk atau apa," kata dia. 

Hal sama juga diungkapkan oleh Pengamat Intelejen, Ridlwan Habib. Dia bahkan meminta agar semua pihak memperpanjang sikap waspada terhadap aksi teror menjelang akhir tahun dan memasuki awal tahun 2020 ini. 

Apalagi kata dia ada kecenderungan pola seperti yang sempat terjadi pada aksi bom Thamrin awal tahun 2016 lalu. Kala itu kata dia semua pihak telah waspada sejak Desember 2015. Namun justru tak terjadi apapun. 

Justru serangan terjadi pada 11 Januari, saat hampir semua pihak menurunkan kewaspadaan mereka terhadap aksi teror yang dilakukan oleh para terorisme ini. 

"Saya kira ini juga harus diwaspadai pola seperti itu jangan sampai kita hanya fokus pada tanggal-tanggal krusial, misal tanggal 25 Desember atau 31 Desember dan 1 Januari, pada wilayah dan tanggal di sekitar itu," kata dia. 

Serangan saat ini kata Ridlwan juga tak bisa lagi diprediksi berupa serangan teror bom bunuh diri. Aksi-aksi kecil namun berdampak besarlah yang mesti diwaspadai, misal serangan penusukan terhadap tokoh atau orang besar. 

"Itu bisa saja polisi atau pejabat pemerintah bisa saja pihak asing juga misal duta besar. Itu yang harus diwaspadai, termasuk waspada terhadap objek wasisata nasional," kata dia. (tst/eks)