BNN Sebut Penyelundupan Narkoba ke Ibu Kota Baru Meningkat

CNN Indonesia | Jumat, 06/12/2019 05:00 WIB
BNN Sebut Penyelundupan Narkoba ke Ibu Kota Baru Meningkat Deputi Pemberantasan Badan Narkotika Nasional (BNN), Inspektur Jenderal Arman Depari. (CNN Indonesia/Bimo Wiwoho)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Narkotika Nasional (BNN) menyatakan penyelundupan narkotika ke Kalimantan Timur (Kaltim), khususnya di kawasan calon ibu kota baru Republik Indonesia (RI) mengalami peningkatan.

"[Peredaran narkoba di Ibu Kota baru] ada peningkatan. Kami mencatat dari beberapa bulan lalu kurang lebih ada 100 kilo [kilogram] yang bisa kami gagalkan," ujar Deputi Pemberantasan BNN Inspektur Jenderal Arman Depari usai bertemu Menko Polhukam Mahfud MD di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Kamis (5/12).

Wilayah ibu kota negara baru yang telah ditetapkan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) mencakup irisan kawasan Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Kutai Kartanegara, Kaltim.


Arman mengaku pihaknya terkejut dengan banyaknya narkotika yang masuk ke kawasan Kaltim. Pasalnya, kata dia, selama ini Kaltim bukan merupakan kawasan wisata maupun industri.

Sehubungan dengan peningkatan itu, Arman mengklaim pihaknya akan melakukan evaluasi: Apakah hal berkaitan dengan rencana pemindahan Ibu Kota Indonesia yang baru ke Kaltim?

"Sesuai dengan pengalaman biasanya para bandar narkoba ini akan tetap melihat pasar atau market, di mana market besar, di mana kebutuhan meningkat, dan tentunya merupakan daerah peningkatan para pemakai atau pencandu narkoba, tentu mereka mengarahkan sindikatnya ke sana," ujarnya.

Di sisi lain, Arman menyampaikan jenis narkoba yang ditemukan di Kaltim tidak ada yang baru. Dia mengatakan peredaran narkoba yang berhasil dibongkar di sana adalah jenis sabu, ekstasi, dan ganja.

"Tiga jenis ini masih mendominasi penyalahgunaan narkoba di Indonesia terutama di kalangan anak muda atau kalangan generasi muda kita," ujar Arman.

Terkait persentase peningkatan penyelundupan narkoba ke Kaltim, termasuk kawasan ibu kota baru, Arman menyatakan BNN belum memiliki data tersebut.

Lebih lanjut, Arman menyampaikan kawasan penyelundupan mulai mengalami pergeseran. Dia menuturkan penyelundupan narkoba mulai masuk kawasan Kalimantan Utara--dari semula hanya melalui kawasan Aceh, Riau, dan Kaltim. Adapun jalur penyeludupan, Arman menyampaikan masih sangat banyak melalui laut.

Arman menambahkan BNN menduga narkotika yang diselundupkan ke Kaltim berasal dari jaringan internasional seperti jaringan Myanmar, Laos, hingga Thailand. Namun, dia berkata narkoba dari jaringan itu tetap transit di Malaysia sebelum diselundupkan ke Indonesia.

"Dari sini sudah jelas kita lihat bahwa sindikat yang terlibat terdiri dari beberapa kebangsaan dan kalau kita lihat dari sumber barangnya maka juga mereka berada di teritorial beberapa negara," ujarnya.

BNN Sebut Penyelundupan Narkoba ke Ibu Kota Baru MeningkatFoto aerial kawasan Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Sepaku dan Samboja, Kutai Kartanegara akan menjadi lokasi ibu kota negara baru Indonesia. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)
Oknum Polisi

Sementara itu, seperti dilansir Antara, seorang polisi berinisial R diamankan Satuan Reserse Narkoba Polres Penajam Paser Utara karena terlibat dalam jaringan peredaran narkoba jenis sabu-sabu.

Kapolres Penajam Paser Utara AKBP Muhammad Dharma Nugraha menyatakan oknum polisi yang berpangkat brigadir dan bertugas di Polres Penajam Paser Utara tersebut diamankan pada 20 November 2019.

Penangkapan R tersebut, sambung Dharma, dari hasil pengembangan penangkapan empat anggota jaringan pengedar narkoba yang diringkus pada 17 November 2019.

Sebelumnya Polres Penajam Paser Utara berhasil membongkar jaringan pengedar sabu-sabu dengan menangkap FS (35), YUL (37), KRM (31) serta AZH (32 tahun) dengan barang bukti 32,46 gram sabu-sabu.

"Setelah kami kembangkan penangkapan empat anggota jaringan pengedar sabu-sabu, kami tangkap oknum anggota polisi itu," ujar Dharma.

[Gambas:Video CNN]
Dharma mengatakan dalam peredaran narkoba tersebut R tidak secara langsung menjual kepada konsumen, tetapi menggunakan jaringan anggota yang telah diamankan sebelumnya.

"Oknum anggota polisi aktif itu perannya sebagai pengendali jaringan peredaran narkoba jenis sabu-sabu di wilayah Penajam Paser Utara," katanya.

"Saat penangkapan tidak ditemukan barang bukti, tapi pengakuan anggota jaringannya yang lebih dulu tertangkap barang bukti yang berhasil diamankan bersumber dari oknum bintara tingkat tiga itu," tambahnya.

(jps, Antara/kid)