BNPB Sebut 457 KK dan 300 Rumah Terdampak Banjir Belitung

CNN Indonesia | Jumat, 06/12/2019 17:19 WIB
BNPB Sebut 457 KK dan 300 Rumah Terdampak Banjir Belitung Ilustrasi banjir. (Istockphoto/ Jaykayl)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bencana banjir melanda wilayah Tanjung Pandan, Bangka Belitung, pada Jumat (6/12). Sebanyak 457 kepala keluarga (KK) dan 300 rumah pun terdampak.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Agus Wibowo menyatakan bencana itu disebabkan intensitas hujan yang tinggi selama kurang lebih jam pada pagi hari tadi.

"Pada pagi ini 6 Desember 2019 pukul 07.30 WIB banjir menggenangi wilayah Tanjung Pandan. Banjir disebabkan karena hujan dengan intensitas tinggi sejak pukul 05.30 WIB," kata Agus lewat keterangan tertulisnya, Jumat (6/12).


Dia menerangkan bahwa daerah terdampak banjir meliputi Kelurahan Parit dan Kelurahan Kampung Damai. Menurutnya, berdasarkan laporan sementara hingga pukul 12.30 WIB diketahui jumlah korban terdampak sejumlah 457 kepala keluarga.

Agus menyebut kondisi hujan saat ini sudah reda dan air sudah surut sejak pukul 12.30 WIB.

[Gambas:Video CNN]
"Tim Reaksi Cepat BPBD Kabupaten Belitung dan unsur terkait antara lain pemadam kebakaran, tentara, polisi, dan warga sudah turun ke lapangan dan melakukan penanggulangan," tutur Agus.

Meski sudah surut, Kepala Bidang Kedaruratan badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Aswind, menyebut tim BPBD, TNI, Polri, Satuan Polisi Pamong Praja, dan warga tetap siaga mengantisipasi banjir susulan. Pasalnya, hujan masih berpotensi turun.

"Saat ini tim sudah menyiapkan perahu karet, pelampung, ring buoy, dan peralatan lainnya untuk mengantisipasi banjir susulan," kata dia, dikutip dari Antara.

Aswind menyebut hujan lebat dan pasang air laut menimbulkan banjir yang mengakibatkan 300 rumah di Kota Tanjung Pandan, utamanya Kelurahan Kampung Damai, tergenang. Hal ini menghambat aktivitas warga daerah wisata tersebut.

"Dalam beberapa tahun terakhir, banjir kali ini di Belitung merupakan bencana yang terparah karena saluran air tidak mampu menampung curah hujan lebat ditambah pasang air laut yang tinggi," tandasnya. (mts/arh)