Survei Median: Gibran Bisa Terjegal Isu Dinasti Politik

CNN Indonesia | Senin, 16/12/2019 17:17 WIB
Survei Median: Gibran Bisa Terjegal Isu Dinasti Politik Gibran Rakabuming dinilai perlu memperkuat persepsi publik untuk mendongkrak elektabilitas di Solo dengan tidak sekadar mengandalkan status anak Presiden Jokowi. (CNN Indonesia/ Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Direktur Utama Median Rico Marbun mengatakan isu dinasti politik berpotensi menjegal laju putra Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka, pada pemilihan Wali Kota Solo di Pilkada Serentak 2020. Simpulan itu merupakan hasil survei yang dilakukan Median pada 3-9 Desember 2019.

Rico menyebut ada 41,6 persen responden yang menganggap pencalonan Gibran di Pilkada Solo sebagai praktik dinasti politik. Sementara 55,5 persen menilai hal itu bukan dinasti politik, sedangkan 2,9 persen lainnya menjawab tidak tahu.

Dia menilai isu dinasti politik jadi isu sentral di Solo. Keterbelahan publik Solo, kata Rico, berpotensi menggerus perolehan suara Gibran.

"Kalau sekiranya dinasti politik membesar, bahkan menemukan momentumnya, itu akan mengancam elektabilitas Gibran," kata Rico dalam jumpa pers di Cikini, Jakarta, Senin (16/12).


Isu dinasti politik bahkan sudah mulai menciptakan resistensi di publik Solo terhadap Gibran. Median mencatat ada sepuluh alasan warga Solo untuk tidak memilih Gibran.

Beberapa di antaranya yaitu sebanyak 23,4 persen responden menilai Gibran terlalu muda, 18,9 persen menilai ada nepotisme, 18,9 persen belum berpengalaman, 9,1 persen kurang demokratis, dan 5,7 persen menilai ada dinasti politik.

"Kalau isu ini bisa menyusut, dikendalikan, (mengangkat isu) memang dia pantas untuk jadi pemimpin, dan lain-lain dikembangkan timses Gibran, mungkin saja Achmad Purnomo bisa dikalahkan dalam sembilan bulan," tuturnya.

Meski begitu, Rico berpendapat masih ada kesempatan bagi Gibran. Menurutnya, Gibran perlu mengkapitalisasi citra-citra seperti merakyat dan kerja keras yang disukai publik dari Purnomo.

"Kalau Gibran mau menang, dia harus mengadopsi persepsi publik terhadap Purnomo," tuturnya.

Median menggelar survei tersebut pada 3-9 Desember 2019 terhadap 800 responden yang merupakan warga Solo pemilik hak pilih. Survei menggunakan multistage random sampling dengan margin of error kurang lebih 3,5 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen. Dalam survei itu, Median mencatat elektabilitas Achmad Purnomo mencapai 45 persen, sedangkan Gibran hanya 24,5 persen.
[Gambas:Video CNN]

Rico menilai posisi Gibran di Pilkada Solo masih bergantung kepada ayahnya, Presiden Jokowi. Simpulan itu merupakan hasil hasil survei yang dilakukan Median pada 3-9 Desember 2019.

Survei tersebut mencatat Gibran mempunyai elektabilitas atau tingkat keterpilihan 24,5 persen. Dari jumlah tersebut, 27,8 persen di antaranya memilih Gibran karena muda, 18,5 persen karena status anak Jokowi, dan 13 persen karena prestasi sebagai pengusaha kreatif.

Sebanyak 21,9 persen dari total responden menilai anak presiden maju pilkada sebagai hal yang tidak baik. Sementara 38,1 persen menikai biasa saja dan 40 persen lainnya menilai baik.

"Kalau suatu saat Gibran ingin mengubah keterpilihan yang saat ini diungguli Purnomo dengan 45 persen, dia wajib memperkuat persepsi selain dia adalah putra Joko Widodo," kata Rico .

Rico menyampaikan masih ada kans bagi Gibran untuk membalik keadaan. Namun banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh Gibran karena ia akan bersaing dengan petahana.

Rico menyebut Gibran perlu mengambil langkah yang bukan sekadar pencitraan. Dia diminta mengurangi gimmick politik karena malah akan berdampak buruk bagi elektabilitas.

"Dia harus masuk ranah lain, harus mampu men-challenge misalnya mau jadi wali kota. Apa sih mimpinya terhadap Solo? Kenapa kok Anda merasa bisa lebih? Itu harus diyakinkan publik. Jadi Gibran harus adu gagasan, visi, bukan adu yang lain," tuturnya. (dhf/gil)