Banyak kenangan baik yang ditinggalkan putra ketiga Hasyim Muzadi tersebut. Salah satunya yang membekas di benak Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim Marzuki Mustamar. Marsuki mengatakan semasa hidup mendiang yang karib disapa Gus Hilman itu dikenal sebagai sosok periang.
"Almarhum murah senyum, familiar dengan siapapun, tidak pernah marah-marah dan tidak pernah punya sakit hati dengan siapapun," kata Marzuki saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (18/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lokasi kecelakaan putra Hasyim Muzadi, KH Hilman Wajdi di Tol Pandaan-Malang di antara KM 62-64. (Dok. Istimewa/Satlantas Polres Pasuruan) |
"Di Al Hikam Kota Malang dan Al Hikam di Kota Depok ada perbedaan. Namun, prinsipnya sama, yaitu membekali para santri yang sudah ada 'isinya' dengan bungkus yang bagus," ungkap Gus Hilman semasa hidupnya seperti dikutip dari situs tersebut.
"Pendidikan di Al Hikam hanya mengolahnya agar para santri bisa menggabungkan antara teks di Al Quran dan kitab dengan kontekstual, juga bagaimana mendakwahkan itu," lanjut Gus Hilman.
[Gambas:Video CNN]
Kala itu, Gus Hilman menyatakan pendidikan di Pesantren Al-Hikam memoles santri agar terampil dalam dakwah. Hal inilah yang ditekankan almarhum Hasyim Muzadi yang telah wafat lebih dulu yakni 16 Maret 2017.
"Memakai istilahnya Abah, agar ilmunya tidak menggenang tetapi terus mengalir. Makanya perlu polesan dengan tambahan ilmu bahasa, metodologi nalar, dan metodologi penelitian. Artinya ada tambahan ilmu alat. Inilah yang akan kami teruskan," ungkap Gus Hilman kala itu.
Berdasarkan keterangan dari polisi, putra Hasyim Muzadi itu meninggal karena kecelakaan Tol Pandaan-Malang antara KM62-64. Mobil yang ditumpangi Gus Hilman menghantam bagian belakang truk di ruas tol tersebut.
Lokasi kecelakaan putra Hasyim Muzadi, KH Hilman Wajdi di Tol Pandaan-Malang di antara KM 62-64. (Dok. Istimewa/Satlantas Polres Pasuruan)