Lemas Tak Bersuara Bocah di Depok usai Dipatuk Anak Kobra

CNN Indonesia | Kamis, 19/12/2019 06:53 WIB
Rifky Ahmad Saputra (8) mulanya tak takut dengan ular kecil yang ditemuinya. Namun ular yang ternyata anak kobra itu yang membuat Rifky emas karena dipatuk. Bocah 8 tahun harus dirawat di ICU dan kini rawat jalan akibat dipatok ular kobra di Depok(CNN Indonesia/Thohirin)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tubuh Rifky Ahmad Saputra terbaring lemah di rumahnya di bilangan Beji, Depok. Sempat tiga hari dirawat di ruang Intensive Care Unit (ICU) Rumah Sakit Universitas Indonesia. Kini dia istirahat di rumah seraya menjalani rawat jalan.

Ular kobra penyebabnya. Di bilangan Depok, sejak beberapa hari terakhir, sedang marak kemunculan ular jenis tersebut.

CNNIndonesia.com melihat langsung kondisi Rifky. Badannya lemas. Hanya terkulai di atas kasur lantai di ruang utama rumahnya yang sederhana di kawasan Beji, Depok.


Suara Rifky hanya terdengar sayup-sayup saat menceritakan kronologi dipatuk ular kobra yang belakangan marak ditemukan di Kota Depok. Dia tak mampu bicara dengan suara yang jelas.

Pada Minggu pagi lalu (15/12), Rifky bermain bersama teman-temannya di pinggir kali tak jauh dari rumah.

Saat itu, mereka menemukan dua ekor anak ular kobra. Rifky, bersama kawan-kawannya, tidak diam. Mereka kaget karena baru kali ini melihat ular di sekitar rumah.

Tak ingin menyia-nyiakan apa yang ditemuinya itu, mereka kemudian memasukkan seekor ular ke stoples. Seekor lainnya mereka bunuh.

Rifky mengaku tidak takut dengan ular. Dia mengaku sering menonton video Panji Petualang di laman Youtube. Karenanya, dia tidak gentar dengan ular kecil itu.

"Iya, suka," ujar Rifky saat ditanya apakah ia menyukai Panji Petualang, Rabu (18/12).
Rifky kemudian mengeluarkan ular kobra dari stoples. Namun, ular anakan itu mematuk ujung telunjuk tangan Rifky. Rifky mengerang kesakitan di hari Minggu yang masih pagi itu.

Meski kecil, tetap saja kobra. Ayah Rifky, Hilman sontak memberikan pertolongan pertama tak lama usai mengetahui anaknya dipatuk kobra. Hilman mengikat tangan Rifky dengan dasi pramuka yang seketika ia temukan di rumah.

Tak berselang lama, ia lalu melarikan anaknya ke Puskesmas Beji tak jauh dari rumah. Oleh petugas puskesmas, Hilman kemudian dirujuk ke RS UI lantaran puskesmas tak memiliki serum anti bisa ular kobra.

Hanya bermodal sepeda motor, Hilman tak pikir panjang. Rasa khawatir akan nasib putranya sudah tidak bisa ditawar. Dia lekas menuju Rumah Sakit UI membawa putranya. Tanpa helm dan surat kendaraan.

"Enggak pikir panjang. Enggak bawa STNK, enggak pakai helm. Kita bawa aja dari puskesmas. Masuk jalan raya. Langsung ditangani," tutur pria 43 tahun itu.
Rifky masuk Unit Gawat Darurat (UGD). Akan tetapi, pihak rumah sakit kemudian meminta kepada Hilman agar anaknya dirujuk ke ICU guna mendapat perawatan yang lebih intensif.

Menurut penuturan Hilman, pihak rumah sakit sempat menyalahkan tindakannya mengikat sekitar area tangan yang digigit. Kata dokter menurut cerita Hilman, hal itu justru dapat membahayakan.

"Tapi kondisi dengan diikat salah. Enggak boleh, harusnya biarin aja," kata Dokter menurut penuturan Hilman.

Tiga hari Rifky dirawat di ICU RS UI. Hilman cemas dengan nasib anaknya sepanjang menjalani perawatan. Dia sungguh bersyukur Rifky boleh pulang usai tiga hari dirawat. Namun, tetap harus kontrol ke dokter 2 hari sekali.

Usai mengalami peristiwa itu, Rifky kini mengaku takut dan kapok melakukan tindakan serupa. Dia tak mau lagi menangkap dan bermain-main dengan ular kobra.

"Enggak. Kapok," ujarnya.

Temuan ular kobra oleh warga belakangan marak di sejumlah wilayah seperti Bogor, Jakarta, Tangerang, dan Depok. Pemerintah Kota Depok hingga kini terus berupaya menangani fenomena yang rutin terjadi di musim penghujan seperti saat ini.

[Gambas:Video CNN] (thr/bmw)