Air Mata Syarif Menetes Saat Baca Puisi untuk Randi di KPK

CNN Indonesia | Kamis, 19/12/2019 19:12 WIB
Air Mata Syarif Menetes Saat Baca Puisi untuk Randi di KPK Wakil Ketua KPK Leode Syarif tak kuasa menahan tangis saat mengenang kepergian mahasiswa Kendari Randi dan Yusuf yang tewas tertembak saat demonstrasi September. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Kamis resmi mengabadikan nama Randi dan Yusuf, dua mahasiswa Kendari yang tewas tertembak saat unjuk rasa menolak sejumlah RUU bermasalah di gedung DPRD Sulawesi Tenggara, sebagai nama auditorium di gedung Pusat Edukasi Antikorupsi (ACLC) KPK, Jakarta.

Wakil Ketua KPK Laode M. Syarif mengaku tak bisa tidur saat mengetahui mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO), Himawan Randi tewas tertembak 26 September lalu.


Syarif mengaku tak bisa tidur saat mendapat kabar Randi tewas dalam demonstrasi yang juga menolak revisi UU KPK. Ketika tahu Randi tewas karena tertembak, ia langsung membuat sebuah puisi.


"Saya masih ingat itu kira-kira jam dua subuh. Karena saya tulis sesuatu tentang Randi, subuh-subuh di HP (handphone)," kata Syarif di Gedung Pusat Pendidikan Antikorupsi KPK, Jakarta, Kamis (19/12).

Syarif kemudian membacakan puisi yang ia buat untuk Randi.

"Anak laut, matahari negeri. Anak laut itu tumbuh di tanah cadas bebatuan di Pantai Lakarinta," ujar Syarif mengawali puisi Randi.
Ia melanjutkan membaca puisi yang berisi tentang kehidupan Randi yang dibesarkan dan menjadi harapan kedua orang tuanya. Syarif sempat berhenti beberapa kali saat membaca tulisannya itu.

Ia berusaha menahan tangis. Mata berkaca-kaca. Sesekali tangannya mengusap air mata yang mulai keluar.

"Anak laut itu melejit jadi matahari, membumbung, menyebar sinarnya, melelehkan yang merenggut raganya. Dan jiwanya tetap hidup bergemuruh di dalam dada anak negeri yang menolak bersekutu dengan kebohongan dan kepalsuan," tutur Syarif mengakhiri puisinya.


Syarif mengaku membuat puisi tersebut setelah menelepon ibu Randi. Hanya butuh waktu 10 menit menyusun kalimat itu. Setelah itu ia kirim langsung kepada seorang pegawai KPK.

Selepas berdialog, Syarif bersama Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia, Usman Hamid, perwakilan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), serta keluarga Randi meresmikan nama Randi dan Yusuf Kardawi sebagai nama Auditorium Pusat Pendidikan Antikorupsi KPK.

Yusuf merupakan mahasiswa Universitas Halu Oleo yang juga tewas dalam demonstrasi di Kendari. Nama mereka, Randi-Yusuf sudah resmi diabdikan di lembaga antikorupsi.

Selain nama mereka berdua, KPK juga mengabadikan tiga nama pemuda lainnya yang tewas saat menolak sejumlah RUU bermasalah akhir September 2019. Mereka adalah Maulana Suryadi, Akbar Alamsyah, dan Bagus Putra Mahendra.
[Gambas:Video CNN]

Ketiga nama itu diabadikan untuk nama ruangan di lantai dua Pusat Pendidikan Antikorupsi KPK.

Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia, Usman Hamid mengatakan kelima pemuda yang tewas saat demonstrasi September lalu merupakan pahlawan muda pembela reformasi.

"Kenapa? Karena mereka ini bukan sekedar menyampaikan ekspresi atau pendapat tapi membela esensi-esensi agenda reformasi itu," kata Usman.

Menurut Usman, apa yang dilakukan KPK dengan mengabadikan mereka sebagai nama ruangan merupakan apresiasi karena sudah ikut menjaga lembaga antirasuah. Ia menyebut Randi dan mereka yang menjadi korban kekerasan aparat ikut mengerahkan segala daya upayanya.

"Tapi itu baru satu agenda yang mereka bela, sebenarnya ada enam agenda lagi yang saya kira menjelaskan mengapa memang mereka pantas kita sebut sebagai pahlawan muda pembela reformasi," tuturnya. (fra/gil)