"Beban berat dia, menang enggak dianggap hebat, kalau kalah memalukan," ujar Budiman saat ditemui wartawan di Jakarta, Sabtu (21/12) malam, dikutip dari Antara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Seorang seperti Gibran mudah memenangkan pertarungan itu. Dia boleh lah, dia cukup populer. Sebagai pendatang baru dia populer lah ya," ujar Budiman, yang merupakan mantan Anggota Komisi II DPR ini.
Ia menambahkan kemenangan Gibran juga akan tergantung Dewan Pimpinan Pusat PDI-P memutuskan bagaimana strateginya.
"Saya tidak tahu apakah dia punya ide-ide tertentu atau kita (PDI-P) juga memikirkan itu," ujar Budiman.
Begitu pula dengan Bobby yang hendak mencalonkan diri di Pilkada Medan. Budiman menyebut bebannya kurang lebih sama dengan Gibran. Karena itu, lanjutnya, diperlukan suatu strategi luar biasa cerdas untuk membuktikan diri lepas dari bayang-bayang Jokowi.
Soal tudingan dinasti politik, Budiman mengatakan secara prosedural pencalonan Gibran dan Bobby tidak melanggar hukum. Terlebih, katanya, setiap warga negara punya hak mencalonkan diri dalam pemilihan umum.
Sebelumnya, berdasarkan survei pada 3-9 Desember 2019, lembaga survei Median menyebut tingkat popularitas Gibran masih kalah populer dari Wakil Wali Kota Solo Achmad Purnomo.
Achmad diketahui memiliki popularitas teratas dengan 94,5 persen, dan Gibran di tempat kedua dengan 82,3 persen.
(antara/arh)