Polisi Bongkar Makam Petani Korban Serangan Harimau di Sumsel

CNN Indonesia | Senin, 23/12/2019 16:34 WIB
Korban sehari sebelumnya ditemukan tewas dengan kondisi mengenaskan. Ia diyakini dimangsa harimau yang kerap berkeliaran. Foto ilustrasi. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tim Forensik Kepolisian Daerah Sumatera Selatan membongkar makam Suhadi [sebelumnya ditulis Suwadi] (50), petani warga Desa Pajar Bulan, Kecamatan Mulak Ulu, Kabupaten Lahat, Senin (23/12) yang tewas diduga akibat serangan harimau. Makam dibongkar untuk keperluan autopsi jenazah.

Sebelumnya Suhadi ditemukan tewas di kebunnya dalam kondisi mengenaskan karena bagian tubuhnya terpisah-pisah bahkan ada yang hilang, Minggu (22/12) pagi. Keluarga pun segera memakamkan Suhadi pada sore hari yang sama.

Kapolsek Mulak Ulu Lahat Ajun Komisaris Kasmini Dardah mengungkapkan, proses autopsi dilakukan setelah mendapatkan persetujuan keluarga meskipun Suhadi sudah dimakamkan. Meski kuat dugaan Suhadi menjadi mangsa harimau sumatera, kepolisian membutuhkan bukti nyata dari keterangan ahli untuk mengetahui penyebab kematian Suhadi.



"Dugaan kuat diserang harimau, tapi kita perlu bukti makanya dipastikan dulu lewat autopsi. Pihak keluarga juga penasaran penyebab korban tewas," kata Kasmini, Senin (23/12).

Saat ditemukan, kondisi jenazah Suhadi tidak utuh. Bagian kaki, tangan, paha, dan kepala ditemukan terpisah sementara bagian tubuh dada dan perutnya belum ditemukan.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan Genman Suhefti Hasibuan berujar, penyebab pasti kematian korban saat ini masih diselidiki oleh kepolisian. Namun berdasarkan laporan dari penggiat harimau dan petugas di lapangan, jenazah Suhadi memiliki kemiripan dengan bekas-bekas yang ditinggalkan harimau usai memangsa.
[Gambas:Video CNN]
"Ada model seperti itu, biasa terjadi juga [dimangsa]. Cuma kan tentunya kepastiannya, karena tidak ada saksi mata yang melihat, tentunya harus dilakukan autopsi dan diidentifikasi oleh ahlinya," ujar dia.

Berdasarkan laporan petugas di lokasi kejadian, tempat Suhadi tewas masuk dalam kawasan hutan lindung Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Semendo dengan jarak antara hutan dan pemukiman warga sekitar dua kilometer. Suhadi pun diketahui sudah berada di kebun sejak tiga pekan terakhir. Setiap satu pekan sekali, anak korban selalu mengirimkan makanan kepada Suhadi.

"Bahkan anaknya itu mengaku pernah melihat harimau di sekitar lokasi kejadian sebelum ayahnya tewas. Artinya yang bersangkutan sudah tahu di situ ada harimau. Namun mungkin beliau ada kebutuhan atau apa, jadi tidak mengindahkan imbauan," kata dia.

Genman mengatakan, mulai dari gubernur, bupati, camat, kepala desa hingga ke kepala adat sudah mengimbau kepada masyarakat untuk menghindari aktivitas di kebun yang dekat atau berada di dalam kawasan hutan lindung.

"Pemerintah sudah coba imbau, tapi masyarakat sendiri yang tidak mengikuti imbauan ini. Ini sudah tegas padahal," ujar dia.
(idz/sur)