Salah satunya bahkan sempat putus asa atas kondisinya itu dan meminta dibunuh untuk mengakhiri penderitaannya tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak putus sekolah tersebut, Nadia sudah tak bisa lagi mengenakan pakaian di tubuhnya. Setiap mengenakan pakaian, kulitnya yang melepuh menempel di pakaiannya dan menyebabkan rasa sakit yang tak tertahankan.
Warga menunjukkan Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) yang merupakan program pemerintahan Jokowi-JK. (Safir Makki) |
Nadia, kata Yunani, sering mengutarakan keputusasaan atas kondisinya itu. "Sering dia bilang, 'Ma, bunuh bae aku ini. Aku sudah dak tahan lagi cak ini'," ujar Yunani menirukan perkataan Nadia.
Zahril Hamid (39), ayah kandung Nadia dan Vika, menyebut putri pertamanya itu memiliki bercak berwarna merah di bagian kakinya saat lahir. Ia mengira itu bekas darah usai persalinan. Namun saat hendak dimandikan kulit Nadia mengelupas akibat melepuh.
"Kulitnya melepuh seperti terbakar, Nadia-nya juga nangis. Waktu itu langsung dibawa ke bidan desa dan diobati pakai salep," ujar dia.
Nadia lantas beralih ke Ampicilin atas dasar konsultasi dengan bidan. Bukan diminum, isi kapsul itu ditaburkan langsung ke kulitnya. Nadia menjerit kesakitan.
Beberapa hari usai diobati, kondisi Nadia tak kunjung membaik. Zahril dan Yunani memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit. Di rumah sakit, dokter mendiagnosa bahwa Nadia mengalami kelainan kulit bawaan sejak lahir.
Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi |
Saat ini Nadia mengalami katarak dan penglihatannya berhenti berfungsi sejak setahun terakhir. Ia pun sudah tak dapat lagi berjalan. Setiap aktivitasnya selalu dibantu oleh keluarga.
Buku-buku jari tangan Nadia pun sudah saling menempel karena bekas kulit yang melepuh menjadi bersatu. Tenggorokannya tampak melepuh, sehingga sulit untuk menelan makanan.
Namun, keduanya khawatir kondisi anak bungsunya tersebut bakal semakin parah saat beranjak dewasa.
"Kami harap ke Palembang ini bisa menyembuhkan mereka. Harta kami sudah habis dipakai untuk berobat bertahun-tahun untuk mereka," kata Yunani.
[Gambas:Video CNN]
Semenjak merawat secara intensif kedua buah hatinya itu, Zahril berhenti menjadi buruh tani karet. Pendapatan Rp500 ribu per dua pekan yang biasa diterimanya pun saat ini tak ada lagi. Keluarga besar pun sudah menjual sebagian besar aset seperti tanah dan kebun untuk biaya perawatan Nadia dan Vika.
"Kalau Bupati (OKU) pernah jenguk, sekali waktu di RS. Waktu itu dikasih sumbangan Rp1 juta, sudahnya tidak ada lagi bantuan dari pemerintah kecuali bikin KIS (Kartu Indonesia Sehat)," kata dia.
Sementara itu, Direktur Medik dan SDM RS Siloam Palembang Anton Suwindro berpendapat kelainan yang diderita oleh Nadia dan Vika merupakan penyakit langka yang jarang ditemui.
"Penyakit itu merupakan kromosom 9 atau trisomi 9 parsial, semacam kelainan pigmen pada kulitnya. Kalau terkena sinar matahari maka akan membuat kulit penderita melepuh. Ini jarang sekali terjadi sehingga sulit mencari kasus sebelumnya dan penanganannya," tutur Anton.
(idz/arh)
Warga menunjukkan Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) yang merupakan program pemerintahan Jokowi-JK. (Safir Makki)
Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi