"Bawa kok," jawab sang istri, Yadhi Setiantari. Berbagai macam merek dan warna obat pun ia gelar di atas meja sambil memberi informasi khasiat dari masing-masing obat.
"Selama 15 tahun ini saya berteman dengan obat," ucap Ram.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Total, teror bom yang meluluhlantakkan Kedubes Australia pada 15 tahun silam itu menelan korban sekitar 150 orang luka-luka dan sembilan orang meninggal dunia.
Lihat juga:Perempuan dan Anak di Pusaran Terorisme |
Sekitar pukul 11.30 WIB, Ram tak tahu bagaimana, tiba-tiba ledakan terjadi. Badan dia terpental hingga menghantam pagar utama gedung diplomatik yang terbuat dari besi. Sempat hilang kesadaran sekejap, saat bangkit Ram langsung mencari jalan masuk ke dalam Kedubes untuk mengetahui keadaan Dubes Australia.
Ketegangan situasi membuat Ram tidak terlalu merasakan sakit di tubuhnya walau sudah menghantam pagar besi. Apalagi secara fisik di permukaan, di sekujur tubuhnya tidak ditemukan luka terbuka akibat ledakan bom.
Bahkan, Ram masih beraktivitas terus hingga tiga hari pascateror. Ia terus mengawal Dubes Australia David Ritchie yang ketika itu mendapatkan kunjungan dari sejumlah pejabat, baik dari pemerintah Indonesia dan pemerintah Australia.
"Tiga hari itu ada kunjungan: Megawati Soekarnoputri [Presiden RI kala itu] ke sana, terus Susilo Bambang Yudhoyono, Kapolri [Jenderal Pol Da'i Bachtiar], kepala kepolisian Australia, Menteri Luar Negeri Australia, sampai Perdana Menteri Australia datang, karena saya ditugaskan di ring 1, saya masih tugas mendampingi Duta Besar. Saya pikir pada saat itu, rasa sakit itu cuma karena kelelahan saja, tidak terpikir kalau saya juga mengalami luka pada waktu itu," ucap Ram.
Menlu Australia kala itu Alexander Downer (kanan) ditemani Dubes Australia saat itu, David Ritchie (kiri) meninjau lokasi teror bom mobil di depan Kedubes Australia, Jakarta, 10 September 2004.(AFP PHOTO/Bay ISMOYO) |
"Akhirnya saya pulang, ketemu keluarga. Kakak saya yang sekarang sudah almarhum sempat mengadakan tahlilan karena saya enggak ada kabar," kata Ram.
Setelah berada di rumah, Ram merasakan sakit kepala yang luar biasa hingga tak sadarkan diri. Dia lalu langsung dilarikan ke RSUD Bogor. Selama dua hari di RSUD Bogor, Ram tidak sadarkan diri. Ia pun dipindahkan ke Rumah Sakit Siloam Karawaci, Tangerang. Ia baru siuman di sana.
"Diagnosa dokter ketahuan ada patah rahang, gumpalan darah di kepala, saraf keseimbangan saya kena, akhirnya ya perawatan di sana karena terjadi penurunan fungsi. Saya waktu itu pegang gelas saja enggak bisa, dari [gangguan] saraf itu," tutur Ram.
Aiptu Ram Mahdi Maulana mengalami gangguan saraf akibat gumpalan darah di kepala pascateror bom Kuningan pada 2004. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma) |
Selain berteman dengan obat setelah 15 tahun pascakejadian, Ram juga terpaksa menjalankan aktivitas sehari-hari dengan menggunakan alat penyanggah leher untuk membatasi pergerakan dari kepalanya.
Alat bantu itu ia pakai setelah hasil pemeriksaan magnetic resonance imaging (MRI) dan magnetic resonance agniography (MRA) yang dijalaninya beberapa tahun silam menemukan penggumpalan darah di bagian otak kecil akibat benturan yang terjadi saat ledakan bom terjadi.
"Hasil MRI dan MRA itu ada penyumbatan di arteri dan vena di belakang kepala, di otak kecil. Itulah akhirnya sekarang mengalami sakit pusing tiba-tiba, hilang keseimbangan. Jadi yang dipakai di leher itu untuk kepala sebenarnya, penyangga supaya enggak terlalu berat dan geraknya," kata Ram.
[Gambas:Video CNN]
Dia mengatakan salah seorang dokter di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON) pernah memintanya agar gumpalan darah di otak kecilnya dioperasi. Namun, lanjutnya, dokter ahli bedah saraf di RS Sentra Medika memintanya agar tidak melakukan operasi karena berisiko besar dan memiliki peluang keberhasilan yang kecil.
Akhirnya, Ram pun tidak melakukan operasi dan memilih mencoba memulihkan gumpalan darah di otak kecilnya tersebut dengan terapi obat.
Selain itu, Ram juga pernah divonis mengalami penurunan kualitas indra pendengaran. Ia menerangkan salah seorang dokter di rumah sakit yang pernah ia sambangi mengatakan telinga sebelah kanan Ram baru bisa mendengar kualitas suara yang berada di angka 90 desibel.
"Jadi kalau orang bisa mendengar suara, kalau saya yang sebelah kanan enggak dengar, 90 desibel itu baru bisa dengar. Kalau dokter bilang sama dengan klakson bis, baru bisa dengar yang kanan. Itu waktu itu ada tes audiometri, ternyata yang kanan 90 desibel, akhirnya sekarang masih terus berobat," tuturnya.
Menlu Australia kala itu
Aiptu Ram Mahdi Maulana mengalami gangguan saraf akibat gumpalan darah di kepala pascateror bom Kuningan pada 2004. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Aiptu Ram Mahdi Maulana bersama istri dan anak-anak mereka. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)