Cegah Mafia Migas, Bareskrim Kawal Pembangunan Kilang Minyak

CNN Indonesia | Jumat, 27/12/2019 04:12 WIB
Cegah Mafia Migas, Bareskrim Kawal Pembangunan Kilang Minyak Kabareskrim Polri Irjen Listyo Sigit akan kawal pembangunan kilang minyak. (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri Irjen Listyo Sigit Prabowo mengatakan pihaknya akan mengawal pembangunan sejumlah kilang minyak Pertamina hingga selesai demi mengantisipasi mafia migas.

"Kami kawal pembangunan kilang-kilang. Jangan sampai ada mafia minyak yang bermain," kata dia, di kantornya, Jakarta, Kamis (26/12) dikutip dari Antara.

Listyo menyebut pembangunan kilang minyak terhambat karena adanya mafia migas. Untuk memetakan masalah di sektor ini, mantan Kapolda Banten itu pun berkoordinasi dengan pihak Pertamina.


"Harus dikawal. Karena kalau tidak, proses pembangunannya pasti akan banyak gangguan," katanya.

Diketahui, saat ini terdapat lima proyek kilang pengembangan dan dua proyek kilang baru. Yakni di Cilacap (Jawa Tengah), Balongan (Jawa Barat), Dumai (Riau), Balikpapan (Kalimantan Timur), Plaju (Sumatera Selatan). Kilang minyak baru akan dibangun di Bontang (Kaltim) dan Tuban (Jawa Timur).

[Gambas:Video CNN]
Dengan proyek kilang ini, kapasitas pengolahan minyak diperkirakan akan meningkat 150 persen.

Selain mengawal pembangunan kilang, Listyo juga akan mengawal pembangunan sarana produksi energi terbarukan dan akan menertibkan para penampung minyak dari sumur-sumur ilegal yang seharusnya dikelola oleh Pertamina.

"Banyak [sumur minyak] yang digali, kemudian ditampung oleh penampung ilegal untuk dijual bebas. Itu harus ditertibkan," katanya.

Ia menambahkan Pertamina akan memberdayakan para penampung ilegal ini dengan memberikan fasilitas berupa koperasi.

"Pertamina menyanggupi untuk membuatkan semacam koperasi sehingga masyarakat diajari cara mengebor yang benar. Mereka (warga) akan menampung, lalu dibeli Pertamina. Menggeser dari ilegal menjadi legal tanpa mematikan (usaha) masyarakat," tutup dia.

(Antara/arh)