"Saya melihat ini sebenarnya suatu yang enggak layak dibesar-besarkan karena tempat itu memang tempat habitatnya harimau. Belum ada satu jengkal pun harimau itu keluar dari habitatnya," ujar Herman, Kamis (26/12).
Herman menambahkan, penyerangan terjadi karena banyak masyarakat yang melakukan perambahan liar di lokasi hutan lindung. Herman menyalahkan warga yang beraktivitas di hutan lindung, padahal sudah ada larangan dari pemerintah setempat dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Herman menyebut warga Pagaralam yang menjadi lokasi empat dari enam lokasi penyerangan tidak resah dengan isu harimau. Mereka hanya resah karena berkurangnya pengunjung wisata akibat isu negatif tersebut. Herman pun mengklaim Pagaralam kini sudah kembali aman.
Herman menyarankan kepada Kementerian LHK untuk memperbanyak papan peringatan dan imbauan karena ketidaktahuan yang banyak menyebabkan masyarakat merambah liar hutan lindung menjadi kebun. Saat ditanya langkah konkret dari Pemprov Sumsel untuk mencegah terjadinya serangan harimau susulan, dirinya meminta agar wartawan memberitakan hal-hal baik tentang Pagar Alam alih-alih peristiwa penyerangan.
"Saya mohon kepada kawan-kawan wartawan untuk menjadi warga yang mengampanyekan Pagaralam aman," kata dia.
Sejauh ini diketahui terdapat enam peristiwa konflik harimau dengan manusia sejak 17 November 2019. Sebanyak empat warga tewas, dan dua lainnya luka-luka akibat serangan harimau tersebut.
Lokasi penyerangan tersebar di Kota Pagaralam, Kabupaten Lahat, serta perbatasan Lahat- Muara Enim. Tiga daerah tersebut merupakan satu hamparan kawasan hutan lindung Dempo dan Kikim Seblat yang menjadi habitat satwa liar dilindungi termasuk Harimau Sumatera. (idz/ain)