Gerindra: Tito, Fachrul, dan Sri Mulyani Perlu Dievaluasi

CNN Indonesia | Selasa, 31/12/2019 19:46 WIB
Gerindra: Tito, Fachrul, dan Sri Mulyani Perlu Dievaluasi Fraksi Gerindra di DPR menilai Mendagri Tito Karnavian, Menag Fachrul Razi, dan Menkeu Sri Mulyani perlu dievaluasi (CNN Indonesia/ Feri Agus Setyawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Anggota Komisi II Dewan Perwakil Rakyat (DPR) Fraksi Gerindra Kamrussamad menganggap tiga menteri Kabinet Indonesia Maju perlu dievaluasi setelah bekerja selama 3 bulan sejak dilantik.

Ketiga menteri yang dimaksud adalah Menteri Agama Fachrul Razi, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, dan Menteri Keuangan Sri Mulyani.

"Setidaknya ada tiga menteri di jajaran kabinet Jokowi yang tiga bulan pertama ini kami nilai perlu dievaluasi," kata Kamrussamad di Jakarta, Selasa (31/12).


Kamrussamad menilai Fachrul telah menimbulkan kontroversi di awal menjabat. Di antaranya soal larangan cadar dan celana cingkrang di instansi pemerintah, hingga imbauan kepada majelis taklim agar mendaftarkan diri.

Kamrussamad juga menilai Mendagri Tito Karnavian telah memunculkan kontroversi soal Pilkada langsung yang dianggapnya mesti dievaluasi. Tito mengakui memang ingin mengevaluasi pilkada langsung yang membutuhkan anggaran besar.

Selain itu, Tito juga memiliki pekerjaan rumah untuk menyelesaikan masalah desa fiktif hingga kepala daerah yang diduga melakukan cuci uang di kasino luar negeri.
[Gambas:Video CNN]
Ihwal Menteri Keuangan Sri Mulyani, Kamrussamad menganggap perlu ada evaluasi terkait kasus Jiwasraya. Perlu pula evaluasi menteri lainnya yang berkepentingan dengan kasus Jiwasraya.

"Kemudian ketiga masalah Jiwasraya yang kementerian terkait, baik Kementerian Keuangan dan lainnya," ujar Kamrussamad.

Di sisi lain, Kamrussamad mengapresiasi langkah Jokowi yang memberikan kesempatan kepada anak muda atau kalangan milenial sebagai staf khusus presiden. Jokowi juga memberikan kesempatan Nadiem Makarim menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

"Ini menjadi breakthrough (terobosan) bagi kaum muda Indonesia untuk mengambil peranan kepada masa-masa yang akan datang," tuturnya.
(fra/bmw)