Anak Buah Anies Bantah Anggaran Banjir Dialihkan ke Formula E

CNN Indonesia | Sabtu, 04/01/2020 17:46 WIB
Pemprov DKI Jakarta membantah rumor pemangkasan anggaran penanganan banjir untuk penyelenggaraan Formula E. Ilustrasi banjir Jakarta pada 2020. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sekretaris Dinas Sumber Daya Air Pemprov DKI Jakarta, Dudi Gardesi Asikin, mengklarifikasi isu pemangkasan anggaran pengendalian banjir senilai Rp500 miliar, yang diduga dialihkan untuk penyelenggaraan Formula E. Isu tersebut merebak usai banjir melanda Jabodetabek pada awal 2020.

Dudi mengatakan memang ada pemangkasan anggaran senilai Rp500 miliar di Dinas SDA. Namun anggaran itu bukan untuk penanganan banjir, melainkan penyediaan air bersih.


"Angka Rp500 miliar ini bukan diperuntukkan untuk banjir, tapi untuk pembangunan sistem air minum yang dari Jati Luhur ke Muara Karang," kata Dudi dalam diskusi di posko pengungsian Bidara Cina, Jakarta, Sabtu (4/1).


Dia menyampaikan Pemprov DKI berencana membangun sarana air bersih senilai Rp3,3 triliun. Uang Rp500 miliar itu mulanya digunakan sebagai uang muka proyek pembangunan.

Akan tetapi dana itu dipotong dari APBD karena Dinas SDA memprediksi tak akan terserap pada 2019. Sehingga anggaran itu dipindah ke APBD 2021.

"Sehingga itu dikurangi untuk dialihkan di 2021, tapi proses lelangnya, pelaksanaannya, itu akan dimulai tetap di 2020," tuturnya.

Dudi menyampaikan Dinas SDA anggaran khusus untuk penanggulangan banjir masih ada. Ia menyebut anggaran itu masih tercatat dalam APBD 2020.

"Banjir itu hampir, total dinas Rp2,7 triliun, anggaran pembebasan hampir Rp800 miliar, air bersih agak berkurang mungkin sekitar Rp700 miliar," ujar Dudi.

[Gambas:Video CNN]

Kiriman dari Depok

Dudi menyebut banjir di Jakarta pada awal 2020 diperparah dengan air kiriman dari Kota Depok pada Rabu sore lalu.

Dia menjelaskan kondisi air di Jakarta sudah tinggi karena hujan lokal sejak malam pergantian tahun. Sehingga tambahan aliran air dari hulu semakin menambah tinggi luapan Sungai Ciliwung.

"Jadi istilahnya, setelah gelombang di Jakarta hujan dari sore hari sampai pagi berikutnya itu didera hujan yang besar, Depok hujan juga. Yang Depok hujannya bareng dengan Jakarta itu, datangnya sore hari," kata Dudi.

Dudi mengklaim Pemprov DKI Jakarta telah mengantisipasi banjir sekitar sepekan sebelum kejadian. Sejak genangan air naik pertama kali pada 17 Desember 2019, dia mengatakan telah melakukan penanganan.


Dudi juga menampik ketika moderator menyebut Pemprov DKI Jakarta gagap menangani ancaman banjir. Menurutnya, kondisi hujan kali ini luar biasa.

"Enggak gagap bencana. Ini memang luar biasa kejadiannya," tutur dia.

"Menurut staf saya yang menghitung, curah hujan memang ekstrem. Sehingga kalau dihitung secara keseluruhan kalau rata-rata se-Jakarta 270 mm. Itu di Jakarta saja belum di Depok, belum di Bekasi," lanjut dia. (dhf/ayp)