Ibu di Bintaro Selamatkan Bayinya dari Banjir ke Dalam Kulkas

CNN Indonesia | Senin, 06/01/2020 10:43 WIB
Ibu di Bintaro Selamatkan Bayinya dari Banjir ke Dalam Kulkas Ilustrasi evakuasi korban banjir. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Hanim, bayi perempuan berusia empat bulan tampak tenang di gendongan Sakina, ibunya. Ia tidak terganggu dengan riuhnya suasana pengungsian korban banjir di MTS Aljihadiyah, Bintaro, Jakarta Selatan.

Padahal tim Layanan Dukungan Psikososial (LDP) dari Kementerian Sosial tengah mengajak anak-anak korban banjir bermain dan bernyanyi. Suasana pun jadi penuh keriangan dan keramaian. Cara ini dilakukan LDP sebagai salah satu upaya menghilangkan trauma akibat bencana banjir yang melanda pemukiman tersebut.

Hanim hanya melihat keriuhan orang-orang, kondisinya tenang. Ia juga tidak menangis saat ada yang menyentuh tubuhnya. Padahal tubuh mungil itu mengalami luka-luka kecil di punggungnya akibat tergores benda-benda yang mengapung saat banjir terjadi.


Sakina menceritakan banjir yang terjadi saat hari pertama pada 2020, Rabu (1/1) itu begitu cepat meluluhlantakkan seluruh isi rumah kontrakannya yang tidak jauh dari Kali Pesanggrahan.

Sekitar pukul 05.00 WIB, air kecokelatan mulai masuk rumahnya. Hanya dalam hitungan menit, tinggi air sudah mencapai pinggang orang dewasa.

Sakina pun gerak cepat menyelamatkan Hanim dan anak pertamanya, Azzam. Dia tak berpikir panjang langsung memasukkan kedua anaknya itu ke dalam kulkas yang baru dua hari menghiasi rumah mereka.

Dibalut kain, Hanim dimasukkan ke dalam "freezer", sedangkan Azzam yang belum berusia tiga tahun diletakkan di rak bawah kulkas.

"Kalau tidak dimasukkan ke kulkas mungkin tidak selamat, karena tim evakuasi baru tiba pukul 10.00," kata Sakina dilansir dari Antara.

Untungnya, kulkas yang dibawa dari rumah mertua itu baru sehari dihidupkan, sehingga suhunya tidak begitu dingin dan kedua anak Sakina bisa masuk dan selamat dari terjangan banjir.

Sakina dan suami, serta kedua anaknya kemudian diselamatkan ke rumah tetangga yang berlantai dua. Mereka selanjutnya bertahan di sana hingga tim penyelamat datang.

Perempuan berhijab panjang berwarna hitam itu baru sebulan tinggal dikontrakkan di kawasan tersebut dan tidak menyangka akan mengalami bencana pada awal tahun.

Hingga saat ini, Sakina belum berani melihat rumahnya karena masih dihantui trauma kejadian awal tahun baru itu.

Ria, tetangga Sakina, juga tidak menyangka banjir hebat akan menerjang saat pagi buta. Biasanya, daerah tersebut hanya mengalami genangan semata kaki saat musim hujan dengan intensitas yang ekstrem.

Sambil menggendong Larisa yang masih berusia satu bulan, Ria menceritakan banjir kali ini begitu dahsyat. Pukul 05.00 WIB, dia melihat air sudah masuk dari bagian bawah pintu depan. Tidak lama kemudian air sudah menggenang, tapi dilihat dari jendela air di luar rumah lebih parah lagi, sudah hampir menyentuh atap rumah.

Karena derasnya air, pintu dapur tidak kuat menahan arus, hingga menjebol pintu dan layaknya air bah, menerjang masuk rumah.

Ria bersyukur lantai dua rumahnya bisa menyelamatkan mereka sekeluarga serta para tetangga sekitarnya, termasuk bayi Hanim.

[Gambas:Video CNN]
Penyakit Mengintai

Anak-anak memang menjadi kelompok yang rentan saat terjadi bencana. Meski mereka mungkin tidak paham apa yang terjadi, tapi di bawah sadarnya rasa takut itu tetap ada.

Seperti Adifa, bayi berusia 1,5 tahun kerap menangis jika berada di rumah. Begitu pula kala hujan, menurut Rumdaya, sang nenek, Adifa sepertinya trauma dengan air.

"Nangis terus kalau di rumah, kalau hujan," kata dia.

Begitu pula dengan Erin yang berusia 17 bulan, akan merengek ketika ada orang tidak dikenal menyentuhnya atau berusaha bercanda dengan bayi berambut ikal itu.

Berdasarkan data pusat krisis kesehatan per 5 Januari 2020, terdapat 11.474 warga DKI Jakarta yang terdampak banjir dan mengungsi.

Dari jumlah tersebut, 201 di antaranya adalah bayi dan 2.041 balita, serta 1.487 anak.

Bayi dan balita, serta anak yang masih tergantung dengan orang tuanya mau tidak mau akan ikut mengungsi dan hidup dalam kondisi serba terbatas di pengungsian. Sementara penyakit, seperti leptospirosis, diare, DBD (Demam Berdarah Dengue), dan ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), asam lambung, demam, dan infeksi kulit mengancam mereka pascabanjir.

Tuti, salah seorang pengungsi di Masjid Raya K.H, Hasyim Asy'ari di Rawa Buaya, Jakarta Barat mengatakan saat ini yang sangat dibutuhkan popok dan makanan bayi.

"Kalau makanan untuk orang dewasa tidak kurang, tapi makanan dan susu bayi tidak ada, kita juga butuh popok," katanya. (Antara/osc)