Strategi Jegal Anies dan Minim Esensi Para Influencer Jokowi

CNN Indonesia | Rabu, 08/01/2020 06:44 WIB
Strategi Jegal Anies dan Minim Esensi Para Influencer Jokowi Gubernur DKI Jakarta Anies Bawesdan dianggap sebagai sosok potensial di Pilpres 2024. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah pegiat media sosial pendukung Presiden Joko Widodo disebut menyusun strategi untuk menjegal Anies Baswedan masuk bursa Pilpres 2024. Salah satu di antara mereka, Muannas Al Aidid khawatir kehadiran Anies di Pilpres 2024 akan memunculkan politik identitas.

Sebuah video pun viral di media sosial Twitter melalui akun @lawan077. Video itu diambil saat acara pertemuan relawan Jokowi. Di antaranya tampak aktivis perempuan Nong Darol Mahmada, Dosen UI Ade Armando, pegiat media sosial Denny Siregar, dan lainnya.

Mereka turut membahas survei LSI Denny JA, yang menyebut Anies termasuk sosok kuat untuk Pilpres 2024.


Pendiri lembaga survei Kedai Kopi, Hendri Satrio menilai terlalu dini menyimpulkan kemungkinan Anies maju dalam Pilpres 2024. Kekhawatiran para pendukung Jokowi itu justru membuat pamor Anies memuncak.

"Enggak ada juga esensinya," ujar Hendri kepada CNNIndonesia.com, Selasa (7/1).
Menurut Hendri, popularitas Anies bisa jadi meredup usai masa jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta berakhir pada 2022. Selama ini, popularitas Anies cukup terbantu karena jabatannya sebagai orang nomor satu di Jakarta saat ini. Namun usai habis masa jabatan, Anies harus 'putar otak'.

"Sulit bagi Anies cari panggung untuk tampil kecuali ada parpol yang boyong," katanya.

Nasib serupa juga diprediksi Hendri akan terjadi pada sejumlah kepala daerah lain seperti Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang selama ini juga disebut-sebut masuk bursa Pilpres 2024. Dia menyebut rata-rata masa jabatan kepala daerah itu juga akan berakhir pada 2022 dan 2023.

"Rentang waktu itu menjadi celah kehilangan panggung untuk Pilpres 2024," kata Hendri menegaskan.

Ia membandingkan dengan Jokowi yang masih menjabat Gubernur DKI saat mencalonkan sebagai presiden pada Pilpres 2014. Dengan jabatannya saat itu, Jokowi dianggap lebih mudah meraih popularitas.
"Jadi kita lihat setelah 2022 sajalah. Enggak perlu membagikan 'ketakutan' seperti itu. Itu berlebihan, sangat berlebihan," tuturnya.

Pendapat berbeda disampaikan peneliti LSI Denny JA Ikrama Masloman. Meski terlalu dini, namun kans Anies masuk dalam Pilpres 2024 cukup besar. Menurutnya, Anies justru dapat memanfaatkan akhir jabatannya sebagai Gubernur DKI untuk maju lagi sebagai petahana pada 2022.

"Anies memiliki punya public expose yang lebih, punya pemilih tradisional juga. Jadi tersedia potensial panggungnya," ucap Ikrama.

Meski masih sangat jauh, tak dimungkiri sejumlah parpol yang mulai menggadang-gadang juga makin memperkuat sosok Anies, di antaranya NasDem dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

NasDem diketahui langsung tancap gas membicarakan Anies usai gelaran Pilpres 2019 lalu. Hal ini ditunjukkan dengan pertemuan Anies dengan Ketua NasDem Surya Paloh beberapa bulan usai pemilihan. Terlebih, Anies selama ini juga diasosiasikan dengan NasDem karena termasuk salah satu pendiri.

Sementara dengan PKS, Anies dianggap memiliki kesamaan suara terkait isu politik identitas yang kerap digaungkan partai pimpinan Sohibul Iman itu. Isu itu pula yang menjadi 'senjata' Anies yang ampuh dalam Pilgub DKI 2017.

"Anies punya tone, punya suara yang sama dengan gerakan mereka (PKS) soal politik identitas, mengkapitalisasi isu konservatisme agama. Walau mungkin publik harusnya berhenti mengingat itu," tuturnya.
[Gambas:Video CNN]
Minimnya sosok 'serupa' Anies saat ini, lanjut Ikrama, juga memperkuat pamor mantan Mendikbud itu. Jabatan itu sejauh ini cukup untuk mendongkrak popularitas Anies. Apalagi sejumlah isu belakangan mulai dari anggaran sampai banjir juga kian membuat Anies menjadi pusat perhatian.

Menurutnya, perlu sosok lain yang dapat merebut perhatian selain Anies. Dari hasil survei LSI Denny JA, sejumlah menteri di kabinet Jokowi beberapa kali disebut masuk bursa Pilpres 2024 mulai dari Menteri Keuangan Sri Mulyani hingga sederet nama kepala daerah seperti Ganjar dan Ridwan Kamil.

Sosok mantan Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang kini menjadi Menteri Dalam Negeri juga masuk bursa tersebut. Nama Tito sebelumnya juga sempat disebut-sebut oleh para pendukung Jokowi. Namun, kata dia, peluang itu bergantung pada posisi kandidat di 2024 sebelum penetapan.

"Tapi saat ini belum ada yang pondasinya seperti Anies. Harus ada sosok lain yang merebut perhatian. Anies dapat exposure karena gubernur," kata dia. (psp/ain)