Megawati Soal 9 Gelar Doktor HC: Bukan Saya yang Nyari

CNN Indonesia | Kamis, 09/01/2020 04:55 WIB
Megawati Soal 9 Gelar Doktor HC: Bukan Saya yang Nyari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri mendapat gelar doktor HC dari Universitas Soka, Jepang. (Dok. Tim Media PDIP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden kelima RU Megawati Soekarnoputri mengaku tak tahu sebab dirinya mendapat sembilan gelar doktor honoris causa dari berbagai universitas. Namun, ia tetap mengklaim berbagai prestasi dalam bidang kemanusiaan.

"Ya saya tidak tahu. Kan bukan saya yang nyari. Tapi kan orang mungkin melihat saya. Mungkin dengar dari omongan dari pidato saya," dalam keterangan tertulisnya dikutip dari Antara, Rabu (8/1).

"Karena bagi saya itu yang juga harus diketahui sering kali anak muda mengejar gelar padahal itu hanya sebuah tanda. Bahwa dia sudah selesai sekolah di sebuah tempat. Padahal yang kita ingin lakukan mencari ilmu pengetahuan," imbuh Megawati.


Ia, yang sempat kuliah di Universitas Padjadjaran dan Universitas Indonesia namun tak sampai lulus ini, pun teringat nasihat dari ayahandanya, Presiden pertama RI Soekarno.

"Jadi ketika saya tidak dibolehkan kuliah karena keadaan politik, ayah saya hanya mengatakan begini. 'Udah cari ilmu pengetahuan dimana saja'. Jadi maksudnya saya otodidak," tuturnya.

"Dari situ saya senang baca, bertanya, saya senang diskusi dan hal itu yang mungkin membuat akhirnya ada nilai sehingga orang berikan honoris causa pada saya," kata dia.

Diketahui, pada Rabu (8/1), Mega dianugeraho gelar doktor kehormatan atau honoris causa dari Universitas Soka di Jepang di bidang kemanusiaan. Gelar ini merupakan yang kesembilan baginya.

Delapan gelar doktor honoris causa lainnya antara lain, dari luar negeri, Waseda University (Jepang), Moscow State Institute of International Relations (Rusia), Korea Maritime and Ocean University (Korea Selatan), Mokpo National University (Korea Selatan), Fujian Normal University (China).

Kepala BIN Budi Gunawan turut hadir dalam acara penganugerahan doktor HC untuk Megawati di Jepang.Kepala BIN Budi Gunawan turut hadir dalam acara penganugerahan doktor HC untuk Megawati di Jepang. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Dari dalam negeri, Universitas Padjadjaran Bandung, Universitas Negeri Padang, dan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).

Rektor Universitas Soka Yoshihisa Baba menyatakan gelar itu langsung direkomendasikan oleh Presiden Soka Gakkai, Daisaku Ikeda.

Yoshihisa juga menyatakan bahwa jabatan publik di Indonesia saat ini masih banyak diisi oleh laki-laki.

"Di Indonesia banyak politisi laki-laki dibanding perempuan. Jabatan presiden didominasi laki-laki tetapi beliau berani dan menjadi wanita pertama yang menjadi presiden," ucap dia.

Yoshihisa menyampaikan bahwa Megawati turut memaksimalkan peran dalam menciptakan stabilitas politik. Tidak hanya di Indonesia tetapi juga di negara lain.

Dalam orasi ilmiahnya, Megawati mengaku sudah lama berkecimpung dalam isu-isu kemanusiaan. Ia pun meyakini Universitas Soka sudah banyak mendengar kiprahnya pada bidang ini.

"Kalau dari Universitas Soka adalah masalah kemanusiaan. Dan menurut beliau, saya banyak membantu hal-hal tersebut. Karena mungkin juga mendengar apa yang saya lakukan di Indonesia," ucap Megawati.

Megawati pun menjabarkan berbagai capaian yang dilakukannya, seperti membentuk Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), yang bermanfaat dalam bidang kebencanaan.

[Gambas:Video CNN]
"Puluhan tahun tidak ada yaitu BMKG, yang baru, ketika saya jadi presiden, terbentuk. Hal itu karena banyak sekali membantu masalah-masalah kemanusiaan," ujar Megawati.

Pada kesempatan tersebut, Megawati didampingi sederet menteri Kabinet Gotong Royong era pemerintahannya pada periode 2001-2004.

Misalnya, eks Menteri Pertanian Bungaran Saragih, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri, mantan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro.

Selain itu, ada Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan serta mantan Wakil Rektor Universitas Indonesia Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Bambang Wibawarta.

(rzr/arh)