Boneka Kakek Pengikis Trauma Korban Longsor Bogor

CNN Indonesia | Rabu, 15/01/2020 07:45 WIB
Boneka Kakek Pengikis Trauma Korban Longsor Bogor Relawan CT Arsa Foundation menggelar terapi psikososial untuk anak korban longsor di Desa Pasir Madang, Sukajaya, Kabupaten Bogor. (CT Arsa Foundation)
Bogor, CNN Indonesia -- Teriakan anak-anak kecil menggema menembus tenda pengungsian saat seorang relawan CT Arsa Foundation menampilkan pertunjukan boneka di Desa Pasir Madang, Sukajaya, Kabupaten Bogor.

Rona gembira terpancar di wajah mereka. Sambil duduk, mata mereka fokus menyaksikan pentas boneka. Sesekali tawa memecah hening saat boneka menari dan bernyanyi. Kegembiraan itu, sejenak membuat mereka lupa soal keganasan longsor yang meluluhlantakkan rumah mereka.

Banjir bandang dan longsor melanda Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada Rabu, 1 Januari 2020 lalu. Bencana alam ini meluluhlantakkan daerah yang berada di kawasan perbukitan itu. Akses menuju Sukajaya sempat terputus. Ribuan orang mengungsi ke tenda pengungsian. Jumlah pengungsi terbanyak berasal dari Desa Harakat Jaya sebanyak 1.308 warga.


Relawan CT Arsa Foundation, Riyad, melanjutkan pentasnya. Dia mengambil sebuah boneka Ia menamakan boneka itu Kakek Ariq. Boneka itu menggambarkan wajah seorang kakek.

Suara Riyad mendadak berubah. Suaranya berat.

"Kakek punya cerita, yang bisa jawab nanti kakek kasih hadiah," ucap Riyad.

Sambil memainkan boneka, Riyad memulai kisahnya. Ia bercerita Kakek Ariq memelihara seekor domba. Di hari berikutnya, sang kakek membeli dua ekor domba lagi.

Di tengah cerita, Riyad mengejutkan anak-anak korban longsor dengan pertanyaan.

"Berapa semua jumlah kaki domba punya kakek Ariq?" tanya Riyad.

Anak-anak sempat terdiam. Jari mereka sigap menghitung, mulut tak berhenti merapal angka-angka.

"Empat," "Delapan." teriak anak-anak.

Riyad menggeleng tanda jawaban salah.

Para orang tua yang mendampingi tak berhenti tertawa karena jawaban polos anak mereka.

"Dua belas," jawab seorang anak perempuan.

Boneka Kakek Pengikis Trauma Korban Longsor BogorCT Arsa Foundation dirikan posko di Sukajaya, Bogor. (CNN Indonesia/Dhio Faiz)
Riyad yang mendengar teriakan "Dua belas" langsung mencari asal suara. Dia menunjuk anak perempuan dan mengundangnya ke depan. Ditanya Riyad tentang namanya, anak perempuan itu menjawab, "Sri."

Kemudian, Riyad juga bertanya tentang usia dan cita-cita Sri. Kepada Riyad, anak 11 tahun itu bilang ingin jadi kamerawan agar bisa bekerja di televisi. Jawaban itu pun disambut tawa dan tepuk tangan.

Riyad menghadiahi Sri dengan sebuah buku tulis. Sri pun tersenyum.

[Gambas:Video CNN]
Pentas boneka hampir usai, relawan CT Arsa Foundation mengajak anak-anak korban longsor bernyanyi dan menari. Dari lagu tentang cuci tangan hingga lagu kebangsaan mereka lantunkan.

"Itu supaya anak-anak lupa trauma mereka. Sekalian kami ingin menutup acara dengan ice breaking biar besok mereka mau datang lagi," ucap dia.

Relawan CT Arsa Foundation mengadakan acara hiburan itu sebagai terapi psikososial. Mereka mengajak anak-anak yang terdampak bencana untuk sejenak melupakan bencana yang menerpa mereka.

Sebanyak sepuluh relawan melakukan terapi psikososial yang digelar dua kali dalam sehari. Rencananya mereka akan terus menghibur anak-anak di Sukajaya hingga akhir pekan ini.
(dhf/ugo)