Kepala Kantor BNI Cabang Kendari, Muzakkir, menyebut dari 123 orang itu, tersisa sembilan orang yang belum dikembalikan uangnya.
"Sekarang dalam berproses terus. Sembilan kemarin sudah melapor segera kita selesaikan hari ini," tuturnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menuturkan upaya pelaporan ke kepolisian atas kerugian yang ditimbulkan sudah menjadi kewenangan BNI pusat.
Pencurian uang lewat skimming ini juga dialami oleh dua nasabah Bank Centeral Asia (BCA). Keduanya mengetahui jadi korban kejahatan setelah melakukan transaksi di anjungan tunai mandiri (ATM) BNI. Meski demikian, BCA merahasiakan kerugian nasabahnya.
"Kita proses kantor pusat dan akan koordinasi dengan pihak berwenang yang menggantinya. Tapi sudah diganti kemarin," bebernya.
Ia menyebut, ATM BCA sudah dipasangkan antiskimming. Selain itu, nasabahnya telah diimbau untuk mengganti ATM menggunakan chip, bukan lagi menggunakan magnetik.
Di tempat terpisah, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sultra M Fredly Nasution menyebut, pihaknya sudah mendapatkan informasi dari BNI bahwa bank telah melakukan pengecekan secara rutin di ATM.
"Cuma barangkali memang sudah kebaca juga, diantara waktu itu ada yang manfaatkan. Tadi BNI berkomitmen mengecek secara rutin mesin ATM-nya. Bukan hanya BNI, semua bank untuk lebih meningkatkan kewaspadaan," katanya.
CNNIndonesia.com mencoba mengecek ATM tersebut yang kebetulan berhadapan dengan kantor BCA Cabang Kendari. Salah satu nasabah, Rizal mengaku, tidak bisa bertransaksi di ATM tersebut.
"Sudah tidak bisa digunakan. Sepertinya harus cari ATM lain," ujarnya.
Ia mengaku baru mengetahui dari awak media jika ATM di depan Hotel Putri Wisata itu jadi tempat transaksi korban skimming. (pnd/wis)