Nama Priyo disebut oleh Fahd El Fouz usai diperiksa KPK beberapa waktu lalu. Fahd mengaku sudah menjelaskan peran Priyo saat diperiksa penyidik KPK.
"Secara politis, sebagian besar teman-teman di DPP dan daerah menganggap Priyo ini gagal dan mencoreng nama partai, sehingga kami minta untuk segera dinonaktifkan atau Pak Priyo sendiri legowo mengundurkan diri," ucap Badar melalui keterangannya, Jumat (24/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, kasus itu kini diproses kembali oleh KPK. Badar menyebut banyak pihak yang menyebut partainya sebagai sarang koruptor. Karenanya, kader mendesak Priyo mengundurkan diri.
Badar juga menyebut Priyo gagal menjadi Sekjen karena Partai Berkarya tidak mendapat kursi DPR pada Pemilu 2019 lalu. Padahal, Partai Berkarya memiliki ekspektasi tinggi dan Priyo tahu tentang hal itu.
"Dan saya bersama beberapa teman sangat men-support teman-teman di KPK agar kasus ini dituntaskan," tutur Badar.
"Apabila Sekjen kami terlibat, salah satu ketua kami disebut namanya, agar segera diperiksa dan diberikan status, apakah sebatas saksi atau tersangka apabila mereka betul-betul terlibat. Karena ini sangat mempengaruhi kewibawaan partai, baik di pusat dan daerah," tambahnya.
Mantan Ketua Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Fahd El Fouz diperiksa penyidik komisi antirasuah terkait pengadaan laboratorium komputer madrasah tsanawiyah tahun anggaran 2011 dan pengadaan kitab suci Al Quran tahun anggaran 2011 dan 2012 di Kementerian Agama Tahun 2011, Kamis (23/1).
Ia berencana terbuka dalam kasus di Kemenag ini. Termasuk membeberkan peran mantan Wakil Ketua DPR yang kini menjadi Sekretaris Jenderal Partai Berkarya, Priyo Budi Santoso.
"Saya senang sekali berarti KPK tidak tebang pilih untuk proses, nama-nama yang saya sebut kemarin diproses. Cukup senang saya dipanggil hari ini, berarti tidak tebang pilih," kata Fahd kepada wartawan sebelum menjalani pemeriksaan di Kantor KPK, Jakarta, Kamis (23/1).