Cegah Corona, RSHS Bandung Cek Sampel Virus Pasien Asal China

CNN Indonesia | Senin, 27/01/2020 11:51 WIB
Cegah Corona, RSHS Bandung Cek Sampel Virus Pasien Asal China Pihak Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung angkat bicara soal seorang pasien asal China yang diduga terjangkit virus corona. (CNN Indonesia/Huyogo Simbolon)
Bandung, CNN Indonesia -- Pihak Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHSBandung angkat bicara soal seorang pasien yang diduga terjangkit novel coronavirus (nCov) atau virus corona. Sampel virus dari tubuh pasien masih diobservasi.

Pasien itu dirujuk dari Rumah Sakit Cahya Kawaluya (RSCK), Kabupaten Bandung Barat.

Direktur Utama RS Hasan Sadikin Bandung Nina Susana Dewi mengatakan pihaknya mencatat dua pasien yang datang ke RSHS dengan gejala penyakit yang beragam.


"Jadi, ada dua pasien yang dirawat di RSHS. Yang pertama adalah pasien laki-laki, dewasa, warga negara China datang ke RSHS pada Minggu (26/1) sekitar jam 13.43 WIB," kata Nina di Bandung, Senin (27/1).

Pasien tersebut, lanjut Lina, membawa surat rujukan dari Rumah Sakit Cahya Kawaluyaan.


"Tertulis dalam rujukannya itu varingitis akut atau Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) akut," ujarnya.

Dokter yang memeriksa pasien asal China itu langsung memindahkan ke ruang isolasi yang ada di ruang IGD. Kemudian dokter melakukan pemeriksaan terhadap pasien tersebut.

"Dari hasil pemeriksaan didapatkan pasien tersebut keadaan umumnya baik, kesadarannya baik tanda vitalnya baik. Suhu tubuh di dalam rujukan itu 37,7 derajat tapi pada saat diperiksa dokter di sini itu 36 derajat," ucap Nina.

Pihak RSHS menegaskan status pemeriksaan yang dilakukan terhadap pasien Tiongkok baru sebatas observasi ISPA akut.

"Dokter yang di triase tersebut menyatakan observasi flu atau infeksi saluran pernafasan atas akut," tegasnya.

RS Hasan Sadikin Obervasi Dua Pasien Infeksi Saluran PernapasPetugas memantau suhu tubuh untuk mencegah penyebaran virus corona. (Hector RETAMAL/AFP)
Dijelaskan Nina, pasien tersebut datang dari Kota Shincuan ke Indonesia pada 12 Januari. Shincuan berjarak sekitar 1.300 kilometer dari Kota Wuhan.

"Jadi diperkirakan takut ada riwayat ke sana dan takut ada kontak, sehingga pada malamnya dia diisolasi di Ruang Isolasi Infeksi khusus (RIKK) Kemuning. Datang melalui IGD menggunakan ambulans khusus pengantar infeksi langsung masuk ke belakang gedung, jadi tidak melalui dalam RSHS," ujarnya.


Pasien kemudian diperiksa kembali oleh dokter-dokter ahli RSHS dengan situasi dan kondisi yang sama bahwa diagnosanya sama, yakni infeksi saluran pernafasan atas akut.

"Hari ini sampel virus dan spesimen dikirim ke Balitbangkes untuk melihat apakah pasien tersebut positif atau tidak. Jadi sampai sekarang pasien tersebut baru observasi infeksi saluran pernafasan atas yang akut," katanya.

Selain pasien asal Tiongkok, RSHS juga kedatangan seorang pasien WNI berjenis laki-laki yang datang pada hari yang bersamaan.

"Kemudian pasien yang kedua itu pasien yang datang dari Rumah Sakit Borromeus, pasien datang dengan keluhan kejang dan tidak sadar. Pasien sempat pergi keluar negeri ke Singapura pada 19 Januari dan pulang tanggal 22 Januari. Pada saat pulang dengan keluhan tersebut akhirnya datang ke Borromeus," ujar Nina.

RS Hasan Sadikin Obervasi Dua Pasien Infeksi Saluran PernapasInfografis Wuhan Kota Sumber Virus Corona. (CNN Indonesia/Fajrian)
Mengingat ada riwayat ke luar negeri selain mengalami keluhan sakit flu, batuk dan demam, pasien dirujuk ke RSHS.

"Tim kami meng-acc untuk masuk ke ruang isolasi khusus juga," ucapnya.

Nina menerangkan, pasien WNI tersebut memang ada perburukan pernafasan, sehingga observasinya infeksi saluran pernafasan bawah akut.

"Pasien ini juga sama, hari ini sampelnya dikirim ke Balitbangkes. Kita menunggu hasil tersebut, jadi tidak bisa menunggu hasilnya langsung," ujarnya.

Nina menegaskan, status kedua pasien tersebut sebagai pasien dengan pemeriksaan infeksi saluran pernapasan akut.

"Namanya observasi infeksi saluran pernafasan atas dan bawah akut. Jadi bukan terduga virus corona, sebab kalau corona itu diagnosa terkonfirmasi itu setelah dari litbangkes keluar hasil," ujarnya.

Nina menambahkan, pihaknya menunggu hasil laboratorium Balitbangkes paling cepat 1x 24 jam.

"Kalau kita ngirim ke sana 24 jam sebetulnya harus bisa diketahui. Biasanya akan dikirim lewat fax," katanya.


(hyg/pmg)