Cerita Mahasiswa Aceh Terisolasi di Wuhan karena Virus Corona

CNN Indonesia | Senin, 27/01/2020 17:17 WIB
Cerita Mahasiswa Aceh Terisolasi di Wuhan karena Virus Corona Virus Corona membuat kota Wuhan diisolasi otoritas China. (Chinatopix via AP)
Banda Aceh, CNN Indonesia -- Seorang mahasiswa Indonesia asal Aceh di China, Sapriadi, terisolasi di Wuhan, China. Mahasiswa asal Aceh itu niatnya hanya beberapa hari di sana. Wabah virus corona membuat mahasiswa Jilin Internasional Studies University (JISU) itu jadi korban isolasi yang dilakukan otoritas China.

Sapriadi sebenarnya bermukim di Kota Changchun yang berjaraknya 2.000 kilometer dari Wuhan. Ia datang ke Wuhan pada 20 Januari guna mengunjungi kawan-kawannya sesama mahasiswa Aceh di sana. Pada saat hendak pulang, maskapai penerbangan membatalkan perjalanan.

"22 Januari saya mendapat kabar dari pihak maskapai, tiket saya secara otomatis di-cancel," kata Sapriadi saat dihubungi wartawan dari Banda Aceh, Senin (27/1).


Sapriadi mengaku ia saat ini bersama teman-temannya dalam kondisi sehat meski khawatir karena korban terus berjatuhan.

"Kami enggak tahu sampai kapan harus di sini. Tapi batin kami sangat khawatir dengan kondisi saat ini, karena sekarang semakin hari korbannya semakin bertambah," katanya.

Sebelumnya, Pemerintah Aceh telah membuka posko di dua lokasi. Posko siaga itu untuk meningkatkan koordinasi antarlembaga dalam mengambil sikap yang diperlukan dalam membantu warga Aceh yang masih tinggal di Kota Wuhan, atau kota-kota lainnya di China.

[Gambas:Video CNN]

Juru Bicara Pemerintah Aceh, Saifullah A Gani mengatakan, pihaknya juga sudah melakukan koordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tiongkok, dan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), untuk memastikan warga Aceh di Wuhan dalam keadaan sehat dan aman.

"Koordinasi terus kita lakukan dengan Kemenlu RI di Jakarta dan KBRI di China," ujarnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, China menyatakan jumlah korban meninggal akibat wabah virus corona bertambah hingga mencapai 80 orang, Senin (27/1).

Kematian terbaru dilaporkan berada di Provinsi Hubei, yakni sebanyak 24 orang. Sementara total kasus yang dikonfirmasi secara nasional naik tajam menjadi 2.744.

Dikutip dari AFP, Komisi Kesehatan Nasional China menyebut jumlah orang yang terinfeksi virus mematikan itu naik menjadi 769, setengah dari mereka ada di Hubei, di mana 461 dari mereka dalam kondisi serius. (dra/ain)