Sapriadi sebenarnya bermukim di Kota Changchun yang berjaraknya 2.000 kilometer dari Wuhan. Ia datang ke Wuhan pada 20 Januari guna mengunjungi kawan-kawannya sesama mahasiswa Aceh di sana. Pada saat hendak pulang, maskapai penerbangan membatalkan perjalanan.
"22 Januari saya mendapat kabar dari pihak maskapai, tiket saya secara otomatis di-cancel," kata Sapriadi saat dihubungi wartawan dari Banda Aceh, Senin (27/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami enggak tahu sampai kapan harus di sini. Tapi batin kami sangat khawatir dengan kondisi saat ini, karena sekarang semakin hari korbannya semakin bertambah," katanya.
[Gambas:Video CNN]
Juru Bicara Pemerintah Aceh, Saifullah A Gani mengatakan, pihaknya juga sudah melakukan koordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tiongkok, dan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), untuk memastikan warga Aceh di Wuhan dalam keadaan sehat dan aman.
"Koordinasi terus kita lakukan dengan Kemenlu RI di Jakarta dan KBRI di China," ujarnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, China menyatakan jumlah korban meninggal akibat wabah virus corona bertambah hingga mencapai 80 orang, Senin (27/1).
Kematian terbaru dilaporkan berada di Provinsi Hubei, yakni sebanyak 24 orang. Sementara total kasus yang dikonfirmasi secara nasional naik tajam menjadi 2.744.
Dikutip dari AFP, Komisi Kesehatan Nasional China menyebut jumlah orang yang terinfeksi virus mematikan itu naik menjadi 769, setengah dari mereka ada di Hubei, di mana 461 dari mereka dalam kondisi serius. (dra/ain)