Mahfud mengatakan, lagipula di sisi lain belum ada negara lain yang melakukan langkah serupa kepada warga negaranya.
"Belum, belum dipikirkan, karena belum ada negara lain pun yang evakuasi," kata Mahfud di Gedung Kemenko Polhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa (28/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena ndak ada indikasi darurat itu sekarang. Itu ada tahapnya, tahap satu dua tiga, ini kita mulai di satu dulu antisipasi, menghalau apa sambil menyiapkan rumah sakit tertentu, memeriksa orang datang," kata Mahfud.
Lihat juga:WHO: Virus Corona Berstatus Risiko Tinggi |
[Gambas:Video CNN]
Unesa Berharap Negoisasi
Sementara itu, Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Prof Nurhasan mengatakan pihaknya bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di China tengah berupaya melakukan negoisasi pemulangan mahasiswa dari Wuhan.
"Kami (Unesa) dan KBRI sudah rapat terbatas untuk menyiapkan membuat formula yang baik (untuk) pemulangan," katanya di Surabaya, Selasa (28/1)
Nurhasan mengatakan saat ini negoisasi pemulangan tersebut masih dalam bahasan formulasi secara teknis. Hal itu bertujuan untuk menghindari terjadinya penularan justru saat proses pemulangan.
"Jangan sampai proses pemulangan justru berdampak mereka tertular. Karena penularan virus corona masih dalam kajian," kata dia.
Nurhasan mengaku pihaknya telah mentransfer sejumlah uang untuk mendukung kebutuhan para mahasiswanya yang tengah tertahan di sana. Ia menyebut dengan uang tersebut mahasiswa bisa membeli bahan makanan yang bergizi, meski dengan harga yang melambung tinggi. Ia berpesan agar mahasiswa menghindari makanan-makanan instan.
"Mereka masih masak, beli bahan makanan sendiri seperti sayur dan kacang-kacangan. Harganya naik empat kali lipat, yang sebelumnya Rp20 ribu sekarang Rp80 ribu," katanya. (tst/frd/ain)