Sempat Masuk RS, Empat TKA China di Sultra Cuma Flu

CNN Indonesia | Rabu, 29/01/2020 15:36 WIB
Empat TKA China di Sultra sempat dirawat meski negatif Virus Corona, sementara kawasan pabrik di Konawe disekat antara pekerja dan warga. Foto ilustrasi. (Istockphoto/Thekopmylife)
Jakarta, CNN Indonesia -- Empat orang tenaga kerja asing (TKA) asal China sempat dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bahteramas, Kendari, Sulawesi Tenggara, Senin (27/1).

Meski demikian, keempatnya dirawat bukan karena wabah Virus Corona atau novel coronavirus (nCov). TKA China itu diketahui hanya mengidap penyakit biasa semacam flu.

"Hanya sakit perut, sakit kepala," kata Plt Direktur RSUD Bahteramas Sjarif Subijakto, Selasa (28/1).


Sjarif mengaku pasien-pasien itu tidak sempat dirawat inap dan tidak ada hubungannya dengan virus corona.

"Sakit-sakit biasa saja. Mereka kerja di Morosi. Setelah diperiksa oleh dokter Khairil, di [bagian] poli, (lalu) pulang," jelasnya.

Ia menyebut, keempat TKA itu adalah pegawai lama di Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI). Meski demikian, ia enggan membeberkan data TKA itu.

Sjarif mengaku pihaknya telah menyiapkan satu ruangan khusus isolasi dengan 20 kasur untuk pasien Virus Corona.

Sejauh ini, kata dia, belum ada TKA di Morosi yang diduga terpapar penyakit mematikan itu.

Sempat Dirawat, Empat TKA China di Sultra Disebut FluFoto: CNNIndonesia/Basith Subastian
"Ada juga perawat terlatih kita siapkan khusus," ujarnya.

Area Smelter Sunyi

Diketahui, terdapat smelter milik perusahaan berbendera Tiongkok, PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI), di Desa Puurui, Kecamatan Morosi, Kabupaten Konawe.

Di perusahaan ini terdapat ribuan pekerja asal negeri tirai bambu yang bekerja menyelesaikan pembangunan pabrik industri pemurnian nikel.

Berdasarkan pantuan CNNIndonesia.com, sejak kabar Virus Corona mewabah di China daerah ini mulai sunyi. Padahal sebelumnya jalan yang menghubungkan Kabupaten Konawe Utara ini tampak ramai oleh TKA yang sekadar berbelanja atau makan di warung.

"Sekarang sunyi sekali. Infonya soal Virus Corona ini, TKA dilarang keluar dari kawasan industri," kata Jusbar (22), warga di Morosi, kepada CNNIndonesia.com.

Ia mengaku hampir semua TKA diisolasi di area pabrik dan tidak melakukan kontak langsung dengan warga sekitar.

Sebelumnya, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sultra mengeluarkan rekomendasi untuk menghentikan penerimaan TKA di Sultra untuk sementara waktu.

[Gambas:Video CNN]
Wakil Ketua DPRD Sultra Muh Endang SA meminta Gubernur Sultra segera menghentikan sementara arus masuk TKA China ke Sulawesi Tenggara sambil berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk menghindari masuknya nCov.

"Rapat merekomendasikan penghentian sementara TKA baru dan turis asing dari Tiongkok yang akan berkunjung ke Sulawesi Tenggara," cetusnya.

Selain itu, ia juga menyebut perlunya peningkatan pengawasan orang asing (POA) terutama kepada TKA di kawasan pertambangan. Terlebih, ada perbedaan data yang sangat mencolok antara Dinas Tenaga Kerja, Imigrasi, Bandara dan instansi lainnya.

"Disnaker Sultra misalnya hanya mencatat 25 orang TKA saja yang bekerja di Morosi, sementara faktanya melebihi itu," kata Endang.

Ia juga mengimbau kepada semua pihak, terutama elite pemerintahan dan politik untuk tidak sembarang mengumbar pernyataan tentang dugaan penyebaran virus corona di Sultra karena dapat menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat.

(pnd/arh)